Rabu, 15 Mei 2013

OMONG KOSONG



Namaku Tari, hari ini aku melihat temanku Rena bersikap tidak seperti biasanya. Dari berangkat mukanya udah asem banget. Dia bahkan tidak duduk satu bangku dengan Nabila seperti biasanya. Aku berpikir, apa mungkin dia sedang marah dengan Nabila. Namun kulihat sikap Nabila seperti sedang tidak punya masalah apa-apa, dia hanya sibuk dengan handphone barunya. Potret sana potret sini, yah dia memang senang memotret. Hasil potretannyajuga bagus dia pernah bilang padaku dia ingin menjadi fotographer. Tapi apalah Nabila itu, dia selalu menginginkan banyak hal. Dari menjadi seorang guru, penyiar, kameramen, penulis scenario, semua dia jadikan cita-cita. Tapi ya tak apalah dari pada tidak punya cita-cita.
“Hoy Nab, uweeeee hape baru nih, kenalan dong,” seru Bagas yang baru saja datang bersama Tegar. “Yeeeee, nggak lucu,” ledek Nabila. “Emang nggak ngelucu,” jawab Bagas tidak mau kalah. “Duduk sama aku Gas, bangku nomor 3 dari belakang,” pinta Nabila. Kulihat Bagas sempat melirik Rena. Mungkin dia juga merasa aneh kenapa Nabila tidak duduk bersama Rena. “Siip!” kata Bagas sambil meletakkan tasnya disamping tas Nab. “Eh sini lihat, kayaknya bagus tuh. Fiturnya apa aja?” tanya Tegar yang emang selalu tergila-gila sama barang elektronik, termasuk hape. Nabila memperlihatkan hapenya pada Tegar. “Kamera 3mp, radio, recording, tv, gprs, games, mmc 4 gb, memori internal 2 gb. Wuih, keren. Pinjem bentar ya,” pinta Tegar. “Buat apa?” tanya Nabila nggak rela, karena biasanya Tegar sering lupa ngembaliin barang orang yang dia pinjem. “Halah bentar aja, bateray  nggak low kan” rajuknya. “”Enggak sih. Ya udah deh, nih. Tapi ntar balikin lho,” kata Nabila akhirnya, mungkin dia nggak enak kalau dibilang pelit sama teman yang lain.
“Tari, kamu lagi ngapain?” Tanya Bagas padaku. “Ngerjain pr matematika. Kamu udah belom?” kataku. “Hah??Emang ada?” tanyanya kaget. Ini dia pertanyaan terburuk pelajar masa kini, pikirku. “Ya ada lah, kalau nggak ngapain aku repot-repot ngerjain,” kataku. Yah, sama aja, nggak beda jauh aku sama Bagas. Cuma ngerjain pr nya pas deadline, hadeh. Bagas langsung mengeluarkan buku matematikanya. “Aku udah ngerjain belum ya?” katanya rada aneh. Heeehh? Jelas-jelas nggak tahu ada pr, ngerjain apaan. “Haaaa, aku belum ngerjain!” serunya. Tuh kan, kataku dalam hati. “Tar, pinjem punya kamu dooong,” pinta Bagas memelas. “Orang aku juga baru ngerjain,” kataku.
“Aduh, gimana nih. Naaaab, udah ngerjain pr matematika belom?” Tanya Bagas pada Nabila. “Udah doong,” kata Nabila. “Aku pinjem,” pinta Bagas. “Ambil aja di tas, buku warna biru,” kata Nabila yang masih asyik ngerumpi di depan kelas. “Kyaaaaaaa, aku juga belum ngerjain!” teriak Tegar tiba-tiba yang tadinya masih anteng nongkrong di pojokan. Puluhan pasang mata dikelas itu pun tertuju padanya. “Lhoh aku duduk mana nih, kok udah penuh semua,” tanya Tegar heran. “Salah sendiri tadi nggak langsung duduk,” kata Nabila. “Ya kan tu di depan masih kosong,” tunjuk Bagas disela-sela kesibukannya menyalin pr Nabila. “Oh tidak terimakasih,” tolak Tegar. Dia memang anti duduk di depan. Baginya duduk di depan itu seperti anak SD, yang mesti duduk bersedekap sambil memandang papan tulis.
Dia memutar pandangan ke seluruh ruangan dan terhenti ke arah kursi kosong di sebelah Rena di meja paling belakang. “Mendingan aku duduk sama Rena,” kata Tegar sambil berjalan ke arah di mana Rena duduk. “Ren, aku duduk sama kamu ya,” kata Tegar, Rena mengangguk. “Tumben nggak duduk sama Nab?” tanya Tegar seraya duduk. “Nggak papa,” kata Rena tanpa menengok. “Owh,” kata Tegar. Dia langsung diam, sambil memandang ke arah Nabila. Sepertinya dia juga paham kalau ada masalah antara Rena dan Nabila. “Ren, bantuin aku ngerjain matematika dong,” pintanya sambil mengalihkan perhatian. “Aku belum ngerjain,” kata Rena. “Ha? Tumben?” tanya Tegar heran. Aku sendiri juga heran Rena yang biasanya rajin hari ini belum ngerjain pr.
***
Saat pulang sekolah, kelas cukup sepi, tinggal aku dan Rena. Nabila sudah pulang bersama Bagas dan Tegar. Kurasa Rena sengaja mengulur waktu sampai semua  orang keluar. Setelah benar-benar sepi aku menghampiri Rena yang masih cuek. “Hey, nggak pulang?” tanyaku basa-basi. “Nanti,” jawabnya. “Udah sore lho?” kataku lagi. “Kamu sendiri kenapa nggak pulang-pulang?” balasnya agak ketus. Rena emang nggak kenal basa-basi, pikirku. Aku diam beberapa saat. “Nungguin kamu,” kataku. Hal itu membuat Rena terdiam beberapa menit, aku ikut menemani diamnya.
“Aku lagi sebel sama orang,” kata Rena akhirnya. “Belom pernah aku semarah ini hanya karena satu orang itu,” lanjutnya. “Yang kamu maksud…,” tanyaku pura-pura nggak tahu. “Nabila lah, siapa lagi,” jawabnya masih dengan nada marah. Aku mengangguk, “Dia kenapa?” tanyaku. “Dia tuh manusia paling omdo sedunia yang pernah aku temuin, temenan sama dia tuh bikin capek,” katanya ketus. “Kenapa emang?” tanyaku lagi. “Dia pernah curhat sama aku kalau dia lagi sedih karena perekonomian ortunya lagi susah. Dia bilang pengen kerja, tapi ortunya nggak ngijinin. Wajar aja kan kalau aku kasih saran. ‘Sekolah kita kan kejuruan, coba aja jualan ke kelas-kelas. Jualan apa gitu, sekedar makanan ringan. Kemungkinan laku, lumayan. Kalau kamu mau, nanti aku bantuin jual’ aku udah nawarin gitu. Dianya jawab, ‘Iya sih, besok coba deh’. Berati kan dia mau, ya aku terus sms temen-temenku bilang kalau Nabila sama aku mau jualan. Tapi esoknya dia datang nggak bawa apa-apa, dengan enaknya dia bilang ‘Nggak jadi Ren, aku nggak berani,’ aku juga jadi nggak enak kan sama temen-temenku,” gerutunya.
Rena emang temennya banyak, dia terkenal di sekolah ini. Secara dia anak donator utama di sini. “Hmmmm,” gumamku sambil memperhatikan cerita Rena. Sebenernya sih aku mau menanggapi, tapi yakin deh ujung-ujungnya pasti nggosip. Nggak lucu dong ngegosipin temen sendiri, bisa-bisa malah nambah masalah lagi. Kulihat Rena menatapku beberapa saat, mungkin waspada kalau-kalau aku tertidur. Dia pun melanjutkan ceritanya.
“Yang kedua, dia bilang mau jual motornya. Dia minta tolong sama aku, oke aku tolongin. Dua hari kemudian aku dapet pembelinya, temen ayahku di kantor. Temen ayahku itu udah nyiapin duitnya, aku tinggal ngasih tau Nabila, eh dia malah jual kredit sama sodaranya,” keluh Rena. “Dia nggak mau ngerepotin kamu kali Ren,” kataku asal. “Beh, nggak mau ngerepotin. Terus ngapain dia cerita sama aku, kalau dia nganggep aku temen dan dia cerita masalahnya sama aku, berarti dia minta tolong. Kalau aku bisa nolong kenapa enggak,” ucap Rena tegas. Aku nggak berani negur lagi, kubiarkan Rena mengungkapkan apa yang dirasakannya. Lebih baik begitu dari pada dia menyimpan amarahnya.
“Dan, ini yang paling nyebelin, dia bilang dia suka nulis dan punya banyak cerita yang dia buat waktu smp, tapi belum satupun diterbitkan karena dia nggak tahu kemana harus menyampaikan cerita-ceritanya itu. Terus aku coba browsing, nanya sama temen ayahku akhirnya aku dapet media yang bisa dikirimi karya. Aku bilangin itu ke Nabila, tapi dia malah bilang ‘hah, yang bener tapi ceritaku yang udah jadi hilang tuh, gimana ya, kalau aku buat lagi kira-kira kekejar nggak ya,’ kalau nggak lama-lama ya kekejar aku bilang gitu. ‘iya deh, nanti aku mulai buat’ ‘kira-kira selesai berapa hari’ tanyaku ‘dua-tiga hari mungkin’ ‘aku kaget ‘emang bisa’ tanyaku. ‘dulu sih aku bisa,’ katanya. ‘ya dah ntar kalau udah selesai tak anterin ke tempatnya’.
Tiga hari kemudian aku nanya udah selesai belum, dia bilang belum,baru dapat awalannya. Hari keempat, baru mau nyusun masalah. Hari kelima, belum dapat konflik. Hari keenam ragu-ragu buat nyelesain. Seminggu dia nggak ngasih kabar apa-apa.Dua minggu, tiga minggu, sebulan nyampe sekarang dia diem aja. Apanya yang dua hari coba. Dia tuh,,, gimana ya, bingung aku njelasinnya temenan sama dia tuh cuma bikin capek, nggak bisa dimengerti. Bilangnya lagi susah, tapi tiap ditolongin nggak diterima. Terus aku harus apa coba,” cerita Rena. Kami diam agak lama.
Mendegar cerita Rena aku jadi inget, dulu waktu masih kelas 1, dia bilang pengen kerumahku. Tapi sampai sekarang dia nggak pernah datang. Sekedar ngomong nggak jadi pun enggak. Padahal aku udah nyiapin banyak hal biar dia nanti betah. Tuh kan nggosip! Untungnya dalam hati, hehe. Aku berkata, “Kamu mau nggak, kalau aku cerita ini ke Nab besok, biar dia tahu kalau kamu sebel sama dia. Liat tanggapan dia gimana, biar dia bisa koreksi diri juga,” usulku. Tapi dia menggeleng, “Nggak. Dia nggak perlu tahu,” kata Rena tegas. “Kenapa?” tanyaku heran. “Nggak papa,” katanya. “Tapi kamu akan baikan sama Nabila kan?” tanyaku cemas. Sedih juga kalau ada temen kita yang musuhan. “Tergantung dia, bisa berubah apa enggak,” jawabnya. Denger itu aku pengen banget ngulangin usulku untuk memeritahu Nabila. Tapi, “Udah yuk, pulang,” ajaknya tiba-tiba ramah, mungkin ini efek dari curhat. “Makasih ya, udah mau dengerin aku, curhat sama kamu enak juga” kata Rena sambil tersenyum, manis deh. “Masa sih? Iya, sama-sama,” kataku juga sambil tersenyum.
***
Aku dan Rena pun keluar kelas, belum jauh dari kelas, kami melihat Nabila dari kejauhan. “Kenapa Naab?” tanyaku heran melihat Nabila yang sudah pulang dari tadi berlari kearah kami. “Tegar nih, hapeku ditinggal di kelas,” katanya menggerutu pada Tegar. “Lha Tegarnya mana?” tanyaku. “Di parkiran,” katanya. “Kalian pulang bareng?” tanyaku lagi agak heran, karena karena rumah Tegar dan Nabila tidak searah. “Enggak, tadi sama Bagas juga. Tadi aku ngajak mereka ke ….. ,” ucap Nabila memutuskan sendiri perkataannya. Aku jadi agak curiga. Tapi, entah benar atau aku berkhayal bahwa sekilas tadi aku sempat melihat Nabila tersenyum pada Rena. Aku jadi agak bingung. Nabila tahu nggak sih kalau Rena marah sama dia. “….adadeeeh,” katanya lalu berlari masuk kelas. “Ya, udah. Aku sama Rena duluan ya?” kataku. “Ya,” seru Nabila dari dalam.
Kami pun melanjutkan perjalanan pulang kami. Saat melewati parkiran kami melihat Tegar berjalan kearah kami. “Wooii Tegar, gimana siih. Hape orang ditinggal,” ledekku. Dia menjawabnya dengan nyengir kuda. “Lupa,” katanya. “Nab, di kelas?” tanya Tegar. “Iya, katanya sama Bagas?” tanyaku karena yang kulihat hanya Tegar, tak kulihat Bagas disisi manapun. “Di sono,” katanya sambil menunjuk ke arah gerbang. “Mana?” tanyaku lagi karena tak melihat siapapun di gerbang. “Bukan di gerbang, tapi di sono!” ucap Tegar sambil meninggikan telunjuknya. “Tau ah! Emang kalian kemana sih?” tanyaku penasaran. “Ke supermarket,” kata Tegar. “Supermarket? Ngapain?” tanyaku heran mendengar Tegar, Nabila dan Bagas ke supermarket. “Adadeeeeh, tenang aja rahasia kok, hehe,” jawabnya. “Ah, kamu tuh. Ditanyain gitu aja pelit amat jawabnya,” kataku sebel. Dia nyengir lagi. “Ke sana dulu ya,” katanya, sambil berjalan menuju kelas kami.
***
Tak lama kami sampai di halte depan sekolah. Kami duduk dibangku halte yang sudah sepi karena jam sudah menunjukkan jam 2.30 p.m. Kami memutuskan untuk naik bus yang biasa kutumpangi, karena rumah Rena sejalur dengan bus itu. Walaupun, rumahku lebih jauh 3km dari rumahnya. Biasanya bus itu datang 10 menit lagi. Sambil menunggu kulihat Rena mengeluarkan sebuah buku dari tas dan membacanya. Dia memang anak yang rajin. Dia juara dikelas kami. Dia orang yang perhatian juga, tiap ada temen kesusahan dia selalu bantu. Termasuk bantu ngasih jawaban waktu ulangan, kadang-kadang. Aku bangga punya temen kaya dia. Walaupun kaya tapi dia baik. Sayang, emosinya tinggi.
Bosan juga nemenin orang yang lagi asik membaca, sedang kita duduk tanpa kata dan tidak melakukan apa-apa. Kukeluarkanlah handphone dari tasku yang masih non-aktif. Sengaja kumatikan tadi pagi, karena nggak mau kena resiko disita. Kuaktifkan handphoneku, lalu,,,, buka facebook, hehe. Cukup rame juga dunia di dalam situ. Ada Febri yang lagi masak. Nisa yang lagi boring. Dista yang lagi jalan-jalan sama Ana di pasar depan rumah. Anto yang lagi ngalamun di pinggir kolam. eh ada Bagas yang lagi sendirian di supermarket, aku komen dia sekalian cari tahu ‘kasian, ngapain disana? Belanja ya??? wkwkwk,’. Dibawahnya ada Nabila yang lagi seneng karena barang yang dia cari kebeli.
Aku jadi teringat sama sikap Nabila waktu berpapasan tadi. Rasa penasaranku pun kembali muncul. Kulihat Rena yang masih asik membaca. Daripada penasaran, kupaksakan diri untuk bertanya saja. “Ren,  Nabila tahu nggak sih kalau kamu marah sama dia?” tanyaku. Rena menghentikan sejenak bacaannya, lalu menggeleng. “Dia nggak tahu,” jawab Rena. Aku terkejut mendengarnya. “Terus, kenapa Nabila tadi nggak duduk sama kamu?” tanyaku heran. “Tadi malem aku sms dia kalau aku mau duduk di belakang, dia kan anti banget duduk di belakang. “Terus dia tadi juga nggak ngobrol sama kamu?” tanyaku lagi. “Ya aku cuma bilang, kalau aku lagi punya masalah jadi nggak mau diganggu ,” katanya. “Itu semua kamu lakuin biar hari ini kamu nggak duduk sama Nabila?” tanyaku heran, nyampe segitu amat sih, batinku. “Ya,” jawabnya. “Kenapa kamu nggak mau dia tahu kalau kamu marah sama dia?” tanyaku lagi. Kali ini Rena terdiam, dia memandang bukunya tapi aku yakin dia nggak membaca. Dia seakan menahan kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya. Baru akan kuulang pertanyaanku bus yang akan kami tumpangi sudah terlihat. “Karena dia emang nggak perlu tahu,” katanya mengulang kalimat yang sama. “Gimana kalau dia tahu sendiri?” tanyaku. “Itu berarti dari kamu,” tuduhnya yang seperti langsung menohok ulu hatiku. Kenapa aku, tanyaku dalam hati. “Becanda kali, nggak usah pake melongo gitu dong, jelek tahu,” kata Rena iseng. Sial, malah dibecandain. “Tapi kamu nggak akan cerita kan sama Nabila?” tanyanya meyakinkan. “Kalau kamu nggak mau, ya aku nggak akan bilang,” kataku. Dia mengangguk. “Kamu percaya kan?” tanyaku meyakinkan diri. Dia tersenyum, “Ya percaya,lah. Yuk, naik,” ajaknya saat bus sudah berhenti di depan kami.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar, dan berbaring di ranjang. Masih terngiang-ngiang tentang apa yang dikatakan Rena tentang Nabila. Rena yang nggak mau Nabila tahu kalau dia marah. Nabila yang tersenyum pada Rena. Ketiganya berputar-putar dikepalaku, memaksaku untuk berpikir walaupun sebenarnya aku pusing. Ya udah lah, mungkin lebih baik kalau Nabila nggak tahu, masalahnya jadi tidak menyebar. Mungkin Rena juga menghindari permusuhan. Semoga aja masalahnya tidak memanjang. Kupejamkan mataku sejenak untuk menghilangkan penat dikepalaku.
Baru saja akan tertidur, handphoneku berbunyi. Tegar sms.
Tegar: ‘Tar, kamu tadi sama Rena ngomongin apa aja sih?’
Aku: ‘Rena curhat, emang kenapa?’
Tegar: ‘Aku lupa matiin record hapenya Nab, kayaknya pembicaraan kalian kerekam deh. Dan dia tahu. Soalnya dia nangis, pas aku samperin ke kelas. Pas aku tanya kenapa, katanya Rena benci sama dia, emang kalian ngomongin apa sih??’
What????? Gawaaaaaattt,  gimana nih??? Duuh Tegar pake ninggalin hape segala sih, bikin masalah aja tu anak.
Aku: ‘hah? Jadi Nabila tahu dong, semua yang aku dan Rena omongin tadi. Mana Rena suruh aku ngerahasiain lagi. gimana dong?’
Tegar: ‘Bingung juga’
Aku: ‘Kamu sih, pake ninggalin hape segala’
Tegar: ‘Kamu mau marah sama aku juga?’
 Aku: ‘Bukan marah, terus gimana coba?’
Tegar tidak membalas. Aku membuka facebook, siapa tahu Bagas membalas koment ku. Kulihat dia tidak membalasnya tapi mengirim inbox. Kubuka inbox dari Bagas. Isinya ‘Nabila ngajak aku sama Bagas beli kado buat Rena, besok kan dia ulang tahun. Katanya dia juga mau bikin kejutan. Kamu jangan bilang-bilang ya, hehehe’. Tambah parah nih urusan, bener-bener aku nggak bisa ngebayangin gimana suasana di kelas besok.
***
Keesokan harinya disekolah,aku bingung harus bilang sama Rena apa nggak, kalau Nabila udah tahu semuanya, aku bingung sungguh. Saat aku masuk kelas Rena udah duduk di bangku nomor dua dari depan, tempat dimana ia dan Nabila duduk bersama. Sepertinya Rena sudah menghilangkan rasa marahnya pada Nabila, tapi sekarang,,,,,. Aduuh, malah Nabila yang gentian marah sama Rena. Gimana nih! Rena pasti ngira kalau aku yang bilang ke Nabila. Duuuuuhhh…..
Aku memilih duduk di bangku nomor dua dari belakang, agak jauh dari Rena. Pura-pura nggak lihat sekalian. Aku takut sungguh. Rena emang baik, tapi jangan sampe bikin dia marah. Panjang ntar urusannya. Nggak lama kemudian Tegar datang, dia duduk didepanku. Sempat ngelirik aku tapi nggak tak bales. Aku terlalu gugup. Kulihat Bagas di belakangnya. Kayaknya dia juga udah tahu tentang Nabila. Dan akhirnya Nabila pun datang, dan dia nggak duduk sama Rena. Yakin Rena nggak mungkin sms Nabila untuk ini. Bener aja, tahu Nabila nggak mau duduk sama Rena, seketika Rena berpaling ke arahku, sumprit jantungku serasa rontok melihat tatapannya. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah menggeleng, sebagai isyarat pada Rena bahwa bukan aku yang memberi tahu Nabila.
Selama pelajaran aku sungguh nggak bisa konsen. Bel pulang membuatku lumayan rileks, tapi justru di sini peraduan baru akan dimulai. Kulihat Nabila menghampiri Rena, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan yang kutebak sebagai kado untuk Rena dan meletakkannya di meja Rena. “Kemarin aku beli ini,,,,,, buat kamu,” kata Nabila pelan, aku nyaris nggak dengar. Hanya begitu, dia lalu mengenakan tasnya dan beranjak keluar. “Buat apa?!” tanya Rena ketus. “Aku heran ya, sama kamu. Kamu udah nggak mau lagi temenan sama aku?” ucap Rena dengan marah. “Bukannya kamu yang ngomong kaya gitu kemarin?” balas Nabila tapi dengan suara perlahan dan dalam. Rena menengok lagi ke arahku. Aku menggeleng semakin kencang. Nabila juga melihatku “Bukan. Aku tahu ini bukan dari Tari, tapi dari ini,” kata Nabila sambil memperlihatkan handphone barunya yang kemarin. “Tegar, lupa lagi. Dia ninggalin ini di laci meja di mana kalian duduk kemarin. Dan record yang dia nyalain waktu istirahat belum di matiin. Aku udah dengar  semua Ren. Maaf udah banyak ngerepotin kamu. Tapi nggak seharusnya kamu, ngerahasiain ini dan cerita sama orang lain,” ucap Nabila yang nada marahnya mulai muncul. “Kamu anggap Tari orang lain?” tanya Rena menantang. “Seenggaknya kamu bilang sama aku,” balas Nabila. “Apa dengan aku bilang sama kamu lalu kamu akan ngerti dan berubah, heh? Orang kaya kamu sudah bisa ditebak apa yang bakal kamu lakuin. Kamu cuma akan minta maaf, dan setelah aku maafin, kamu ulangi lagi. Jadi buat apa aku bilang?” tantang Rena lagi. “Lalu aku harus apa? Minta maaf sama temen-temen kamu, batalin jual motor ke sodaraku dan menjualnya ke temen ayah kamu. Ren, kamu nggak pernah bilang itu sama aku. Kamu nggak pernah bilang kalau kamu sms temen-temen kamu buat beli jualanku. Kamu nggak bilang kamu dapet orang yang mau beli motorku,” kata Nabila kulihat matanya mulai berkaca-kaca. “Dan kamu sama sekali nggak mau ngehargain usahaku untuk nerbitin novel kamu,” balas Rena. Mendengar itu, Nabila membuka tasnya lagi dan mengambil sebuah buku lalu memperlihatkannya pada Rena. Jangankan Rena aku saja terperangah melihatnya. “Diterbitkan 2 hari yang lalu. Aku pengen ngasih tahu kamu ini kemaren. Tapi kemaren kamu jauhin aku,” kata Nabila. Rena masih terdiam melihat novel itu. “Honornya langsung keluar saat aku datang kesana. Dan aku beli itu,” kata Nabila sambil menunjuk bungkusan tadi. “Tadinya aku mau ngajak kamu, tapi kamu lama banget. Akhirnya aku ngajak Tegar dan Bagas, aku pengen bikin surprise. Sampai aku tahu kalau Tegar ninggalin hapeku di sini, dan denger rekaman itu,” lanjut Nabila. Rena tidak menjawab. “Dan kamu tahu Ren, dari mana asal hape ini,” kata Nabila sambil menunjukkan hapenya lagi. Rena yang masih diam mendongak menatap handphone itu. “Aku emang nggak jualan di sekolah, karena aku nggak berani. Nyaliku kecil buat jualan di sini,” Nabila diam sesaat lalu melanjutkan, “Tapi aku jualan di rumah, kadang ke pasar. Hasilnya aku tabung. Kamu bener, aku nggak pernah minta uang saku lagi sejak itu. Dan aku bisa beli hape pake duit sendiri,” ucap Nabila melembut. Aku terharu mendengarnya. “Kamu tahu Ren, aku cerita sama kamu bukan untuk minta tolong. Aku hanya minta saran, yang mungkin bisa kulakukan untuk mengatasi masalahku,” kata Nabila lagi. “Terus kenapa kamu nggak jadi jual motor?” tanya Rena. “Sepupuku butuh motor, aku jual motorku ke dia,” jawab Nabila. Rena memandang novel itu lagi. “Berapa lama kamu nyelesaiin ini?” tanya Rena lagi. “Satu minggu, sebenernya aku…” jawab Nabila. “Harusnya dua hari kan?” sindir Rena sambil tersenyum. Nabila pun ikut tersenyum.
Huuufft, seneng deh liat mereka baikan. Well, satu hal yang bisa kusimpulkan dari Rena dan Nabila adalah mereka itu saling menyayangi tapi kurang komunikasi. Bagas dan Tegar pun melirikku sambil tersenyum. “Well, this problem is clear, right?” seru Tegar mencairkan suasana. “Kamu tuh, nggak ada rasa-rasa bersalah ya?” tegurku. “Tadinya sih, tapi kan kalau aku gak ninggalin hapenya Nab, masalahnya gak akan setuntas ini,” tukas Tegar bangga. “Sebenarnya tuh dah selesai, tapi kamu nambahin bumbu panasnya,” tambah Bagas. “Oke-oke, udah yaa… kita main ke rumah Nab yuk, sekalian jajan jualannya Nab,” ajak Rena senang. “Wahh, sip-sip,” seru kami. “Eh, tungguu, aku nggak jual jajanan tauu!” tukas Nabila. “Terus??” tanya kami heran lagi. “Sembako, aku jualan sembako sama ibuku, di kampung lebih bayak yang butuh itu,” jelas Nabila. “Walah, terus gimana?” tanya Tegar yang jelas gak nyambung sama yang namanya sembako. “Ya nggak papa to? Yang pentingkan main. Mempererat tali silaturahim gitu lho,” tambahku sok bijak. “Nah, itu. Bener banget,” bela Rena. “Gini aja, nanti aku traktir kalian mi ayam deket rumahku, gimana?” tawar Nabila menengahi. “Aku ayamnya aja Nab, ntar tak mi in sendiri,” ujar Bagas yang masih tetap dengan kegaringannya. “Maksud loo?????”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar