Namaku Tari, hari ini aku melihat temanku Rena bersikap
tidak seperti biasanya. Dari berangkat mukanya udah asem banget. Dia bahkan
tidak duduk satu bangku dengan Nabila seperti biasanya. Aku berpikir, apa
mungkin dia sedang marah dengan Nabila. Namun kulihat sikap Nabila seperti
sedang tidak punya masalah apa-apa, dia hanya sibuk dengan handphone barunya.
Potret sana potret sini, yah dia memang senang memotret. Hasil potretannyajuga
bagus dia pernah bilang padaku dia ingin menjadi fotographer. Tapi apalah
Nabila itu, dia selalu menginginkan banyak hal. Dari menjadi seorang guru,
penyiar, kameramen, penulis scenario, semua dia jadikan cita-cita. Tapi ya tak
apalah dari pada tidak punya cita-cita.
“Hoy Nab, uweeeee hape baru nih, kenalan dong,” seru
Bagas yang baru saja datang bersama Tegar. “Yeeeee, nggak lucu,” ledek Nabila.
“Emang nggak ngelucu,” jawab Bagas tidak mau kalah. “Duduk sama aku Gas, bangku
nomor 3 dari belakang,” pinta Nabila. Kulihat Bagas sempat melirik Rena. Mungkin
dia juga merasa aneh kenapa Nabila tidak duduk bersama Rena. “Siip!” kata Bagas
sambil meletakkan tasnya disamping tas Nab. “Eh sini lihat, kayaknya bagus tuh.
Fiturnya apa aja?” tanya Tegar yang emang selalu tergila-gila sama barang elektronik,
termasuk hape. Nabila memperlihatkan hapenya pada Tegar. “Kamera 3mp, radio,
recording, tv, gprs, games, mmc 4 gb, memori internal 2 gb. Wuih, keren. Pinjem
bentar ya,” pinta Tegar. “Buat apa?” tanya Nabila nggak rela, karena biasanya
Tegar sering lupa ngembaliin barang orang yang dia pinjem. “Halah bentar aja,
bateray nggak low kan” rajuknya. “”Enggak
sih. Ya udah deh, nih. Tapi ntar balikin lho,” kata Nabila akhirnya, mungkin
dia nggak enak kalau dibilang pelit sama teman yang lain.
“Tari, kamu lagi ngapain?” Tanya Bagas padaku. “Ngerjain
pr matematika. Kamu udah belom?” kataku. “Hah??Emang ada?” tanyanya kaget. Ini
dia pertanyaan terburuk pelajar masa kini, pikirku. “Ya ada lah, kalau nggak
ngapain aku repot-repot ngerjain,” kataku. Yah, sama aja, nggak beda jauh aku sama
Bagas. Cuma ngerjain pr nya pas deadline, hadeh. Bagas langsung mengeluarkan
buku matematikanya. “Aku udah ngerjain belum ya?” katanya rada aneh. Heeehh?
Jelas-jelas nggak tahu ada pr, ngerjain apaan. “Haaaa, aku belum ngerjain!” serunya.
Tuh kan, kataku dalam hati. “Tar, pinjem punya kamu dooong,” pinta Bagas memelas.
“Orang aku juga baru ngerjain,” kataku.
“Aduh, gimana nih. Naaaab, udah ngerjain pr matematika
belom?” Tanya Bagas pada Nabila. “Udah doong,” kata Nabila. “Aku pinjem,” pinta
Bagas. “Ambil aja di tas, buku warna biru,” kata Nabila yang masih asyik
ngerumpi di depan kelas. “Kyaaaaaaa, aku juga belum ngerjain!” teriak Tegar
tiba-tiba yang tadinya masih anteng nongkrong di pojokan. Puluhan pasang mata
dikelas itu pun tertuju padanya. “Lhoh aku duduk mana nih, kok udah penuh
semua,” tanya Tegar heran. “Salah sendiri tadi nggak langsung duduk,” kata
Nabila. “Ya kan tu di depan masih kosong,” tunjuk Bagas disela-sela
kesibukannya menyalin pr Nabila. “Oh tidak terimakasih,” tolak Tegar. Dia
memang anti duduk di depan. Baginya duduk di depan itu seperti anak SD, yang
mesti duduk bersedekap sambil memandang papan tulis.
Dia memutar pandangan ke seluruh ruangan dan terhenti ke
arah kursi kosong di sebelah Rena di meja paling belakang. “Mendingan aku duduk
sama Rena,” kata Tegar sambil berjalan ke arah di mana Rena duduk. “Ren, aku
duduk sama kamu ya,” kata Tegar, Rena mengangguk. “Tumben nggak duduk sama Nab?”
tanya Tegar seraya duduk. “Nggak papa,” kata Rena tanpa menengok. “Owh,” kata
Tegar. Dia langsung diam, sambil memandang ke arah Nabila. Sepertinya dia juga
paham kalau ada masalah antara Rena dan Nabila. “Ren, bantuin aku ngerjain
matematika dong,” pintanya sambil mengalihkan perhatian. “Aku belum ngerjain,”
kata Rena. “Ha? Tumben?” tanya Tegar heran. Aku sendiri juga heran Rena yang
biasanya rajin hari ini belum ngerjain pr.
***
Saat pulang sekolah, kelas cukup sepi, tinggal aku dan
Rena. Nabila sudah pulang bersama Bagas dan Tegar. Kurasa Rena sengaja mengulur
waktu sampai semua orang keluar. Setelah
benar-benar sepi aku menghampiri Rena yang masih cuek. “Hey, nggak pulang?”
tanyaku basa-basi. “Nanti,” jawabnya. “Udah sore lho?” kataku lagi. “Kamu
sendiri kenapa nggak pulang-pulang?” balasnya agak ketus. Rena emang nggak
kenal basa-basi, pikirku. Aku diam beberapa saat. “Nungguin kamu,” kataku. Hal
itu membuat Rena terdiam beberapa menit, aku ikut menemani diamnya.
“Aku lagi sebel sama orang,” kata Rena akhirnya. “Belom
pernah aku semarah ini hanya karena satu orang itu,” lanjutnya. “Yang kamu
maksud…,” tanyaku pura-pura nggak tahu. “Nabila lah, siapa lagi,” jawabnya
masih dengan nada marah. Aku mengangguk, “Dia kenapa?” tanyaku. “Dia tuh
manusia paling omdo sedunia yang pernah aku temuin, temenan sama dia tuh bikin
capek,” katanya ketus. “Kenapa emang?” tanyaku lagi. “Dia pernah curhat sama aku
kalau dia lagi sedih karena perekonomian ortunya lagi susah. Dia bilang pengen
kerja, tapi ortunya nggak ngijinin. Wajar aja kan kalau aku kasih saran. ‘Sekolah
kita kan kejuruan, coba aja jualan ke kelas-kelas. Jualan apa gitu, sekedar
makanan ringan. Kemungkinan laku, lumayan. Kalau kamu mau, nanti aku bantuin
jual’ aku udah nawarin gitu. Dianya jawab, ‘Iya sih, besok coba deh’. Berati
kan dia mau, ya aku terus sms temen-temenku bilang kalau Nabila sama aku mau
jualan. Tapi esoknya dia datang nggak bawa apa-apa, dengan enaknya dia bilang
‘Nggak jadi Ren, aku nggak berani,’ aku juga jadi nggak enak kan sama
temen-temenku,” gerutunya.
Rena emang temennya banyak, dia terkenal di sekolah ini.
Secara dia anak donator utama di sini. “Hmmmm,” gumamku sambil memperhatikan
cerita Rena. Sebenernya sih aku mau menanggapi, tapi yakin deh ujung-ujungnya
pasti nggosip. Nggak lucu dong ngegosipin temen sendiri, bisa-bisa malah nambah
masalah lagi. Kulihat Rena menatapku beberapa saat, mungkin waspada kalau-kalau
aku tertidur. Dia pun melanjutkan ceritanya.
“Yang kedua, dia bilang mau jual motornya. Dia minta
tolong sama aku, oke aku tolongin. Dua hari kemudian aku dapet pembelinya,
temen ayahku di kantor. Temen ayahku itu udah nyiapin duitnya, aku tinggal
ngasih tau Nabila, eh dia malah jual kredit sama sodaranya,” keluh Rena. “Dia
nggak mau ngerepotin kamu kali Ren,” kataku asal. “Beh, nggak mau ngerepotin.
Terus ngapain dia cerita sama aku, kalau dia nganggep aku temen dan dia cerita
masalahnya sama aku, berarti dia minta tolong. Kalau aku bisa nolong kenapa
enggak,” ucap Rena tegas. Aku nggak berani negur lagi, kubiarkan Rena
mengungkapkan apa yang dirasakannya. Lebih baik begitu dari pada dia menyimpan
amarahnya.
“Dan, ini yang paling nyebelin, dia bilang dia suka
nulis dan punya banyak cerita yang dia buat waktu smp, tapi belum satupun
diterbitkan karena dia nggak tahu kemana harus menyampaikan cerita-ceritanya
itu. Terus aku coba browsing, nanya sama temen ayahku akhirnya aku dapet media
yang bisa dikirimi karya. Aku bilangin itu ke Nabila, tapi dia malah bilang
‘hah, yang bener tapi ceritaku yang udah jadi hilang tuh, gimana ya, kalau aku
buat lagi kira-kira kekejar nggak ya,’ kalau nggak lama-lama ya kekejar aku
bilang gitu. ‘iya deh, nanti aku mulai buat’ ‘kira-kira selesai berapa hari’
tanyaku ‘dua-tiga hari mungkin’ ‘aku kaget ‘emang bisa’ tanyaku. ‘dulu sih aku
bisa,’ katanya. ‘ya dah ntar kalau udah selesai tak anterin ke tempatnya’.
Tiga hari kemudian aku nanya udah selesai belum, dia
bilang belum,baru dapat awalannya. Hari keempat, baru mau nyusun masalah. Hari
kelima, belum dapat konflik. Hari keenam ragu-ragu buat nyelesain. Seminggu dia
nggak ngasih kabar apa-apa.Dua minggu, tiga minggu, sebulan nyampe sekarang dia
diem aja. Apanya yang dua hari coba. Dia tuh,,, gimana ya, bingung aku
njelasinnya temenan sama dia tuh cuma bikin capek, nggak bisa dimengerti.
Bilangnya lagi susah, tapi tiap ditolongin nggak diterima. Terus aku harus apa
coba,” cerita Rena. Kami diam agak lama.
Mendegar cerita Rena aku jadi inget, dulu waktu masih
kelas 1, dia bilang pengen kerumahku. Tapi sampai sekarang dia nggak pernah
datang. Sekedar ngomong nggak jadi pun enggak. Padahal aku udah nyiapin banyak
hal biar dia nanti betah. Tuh kan nggosip! Untungnya dalam hati, hehe. Aku
berkata, “Kamu mau nggak, kalau aku cerita ini ke Nab besok, biar dia tahu
kalau kamu sebel sama dia. Liat tanggapan dia gimana, biar dia bisa koreksi
diri juga,” usulku. Tapi dia menggeleng, “Nggak. Dia nggak perlu tahu,” kata
Rena tegas. “Kenapa?” tanyaku heran. “Nggak papa,” katanya. “Tapi kamu akan
baikan sama Nabila kan?” tanyaku cemas. Sedih juga kalau ada temen kita yang musuhan.
“Tergantung dia, bisa berubah apa enggak,” jawabnya. Denger itu aku pengen
banget ngulangin usulku untuk memeritahu Nabila. Tapi, “Udah yuk, pulang,”
ajaknya tiba-tiba ramah, mungkin ini efek dari curhat. “Makasih ya, udah mau
dengerin aku, curhat sama kamu enak juga” kata Rena sambil tersenyum, manis deh.
“Masa sih? Iya, sama-sama,” kataku juga sambil tersenyum.
***
Aku dan Rena pun keluar kelas, belum jauh dari kelas,
kami melihat Nabila dari kejauhan. “Kenapa Naab?” tanyaku heran melihat Nabila
yang sudah pulang dari tadi berlari kearah kami. “Tegar nih, hapeku ditinggal
di kelas,” katanya menggerutu pada Tegar. “Lha Tegarnya mana?” tanyaku. “Di
parkiran,” katanya. “Kalian pulang bareng?” tanyaku lagi agak heran, karena
karena rumah Tegar dan Nabila tidak searah. “Enggak, tadi sama Bagas juga. Tadi
aku ngajak mereka ke ….. ,” ucap Nabila memutuskan sendiri perkataannya. Aku
jadi agak curiga. Tapi, entah benar atau aku berkhayal bahwa sekilas tadi aku
sempat melihat Nabila tersenyum pada Rena. Aku jadi agak bingung. Nabila tahu
nggak sih kalau Rena marah sama dia. “….adadeeeh,” katanya lalu berlari masuk
kelas. “Ya, udah. Aku sama Rena duluan ya?” kataku. “Ya,” seru Nabila dari
dalam.
Kami pun melanjutkan perjalanan pulang kami. Saat
melewati parkiran kami melihat Tegar berjalan kearah kami. “Wooii Tegar, gimana
siih. Hape orang ditinggal,” ledekku. Dia menjawabnya dengan nyengir kuda. “Lupa,”
katanya. “Nab, di kelas?” tanya Tegar. “Iya, katanya sama Bagas?” tanyaku
karena yang kulihat hanya Tegar, tak kulihat Bagas disisi manapun. “Di sono,”
katanya sambil menunjuk ke arah gerbang. “Mana?” tanyaku lagi karena tak
melihat siapapun di gerbang. “Bukan di gerbang, tapi di sono!” ucap Tegar
sambil meninggikan telunjuknya. “Tau ah! Emang kalian kemana sih?” tanyaku
penasaran. “Ke supermarket,” kata Tegar. “Supermarket? Ngapain?” tanyaku heran
mendengar Tegar, Nabila dan Bagas ke supermarket. “Adadeeeeh, tenang aja
rahasia kok, hehe,” jawabnya. “Ah, kamu tuh. Ditanyain gitu aja pelit amat
jawabnya,” kataku sebel. Dia nyengir lagi. “Ke sana dulu ya,” katanya, sambil
berjalan menuju kelas kami.
***
Tak lama kami sampai di halte depan sekolah. Kami duduk
dibangku halte yang sudah sepi karena jam sudah menunjukkan jam 2.30 p.m. Kami
memutuskan untuk naik bus yang biasa kutumpangi, karena rumah Rena sejalur
dengan bus itu. Walaupun, rumahku lebih jauh 3km dari rumahnya. Biasanya bus
itu datang 10 menit lagi. Sambil menunggu kulihat Rena mengeluarkan sebuah buku
dari tas dan membacanya. Dia memang anak yang rajin. Dia juara dikelas kami.
Dia orang yang perhatian juga, tiap ada temen kesusahan dia selalu bantu.
Termasuk bantu ngasih jawaban waktu ulangan, kadang-kadang. Aku bangga punya
temen kaya dia. Walaupun kaya tapi dia baik. Sayang, emosinya tinggi.
Bosan juga nemenin orang yang lagi asik membaca, sedang
kita duduk tanpa kata dan tidak melakukan apa-apa. Kukeluarkanlah handphone
dari tasku yang masih non-aktif. Sengaja kumatikan tadi pagi, karena nggak mau
kena resiko disita. Kuaktifkan handphoneku, lalu,,,, buka facebook, hehe. Cukup
rame juga dunia di dalam situ. Ada Febri yang lagi masak. Nisa yang lagi boring.
Dista yang lagi jalan-jalan sama Ana di pasar depan rumah. Anto yang lagi
ngalamun di pinggir kolam. eh ada Bagas yang lagi sendirian di supermarket, aku
komen dia sekalian cari tahu ‘kasian, ngapain disana? Belanja ya??? wkwkwk,’.
Dibawahnya ada Nabila yang lagi seneng karena barang yang dia cari kebeli.
Aku jadi teringat sama sikap Nabila waktu berpapasan tadi.
Rasa penasaranku pun kembali muncul. Kulihat Rena yang masih asik membaca.
Daripada penasaran, kupaksakan diri untuk bertanya saja. “Ren, Nabila tahu nggak sih kalau kamu marah sama
dia?” tanyaku. Rena menghentikan sejenak bacaannya, lalu menggeleng. “Dia nggak
tahu,” jawab Rena. Aku terkejut mendengarnya. “Terus, kenapa Nabila tadi nggak
duduk sama kamu?” tanyaku heran. “Tadi malem aku sms dia kalau aku mau duduk di
belakang, dia kan anti banget duduk di belakang. “Terus dia tadi juga nggak
ngobrol sama kamu?” tanyaku lagi. “Ya aku cuma bilang, kalau aku lagi punya
masalah jadi nggak mau diganggu ,” katanya. “Itu semua kamu lakuin biar hari
ini kamu nggak duduk sama Nabila?” tanyaku heran, nyampe segitu amat sih,
batinku. “Ya,” jawabnya. “Kenapa kamu nggak mau dia tahu kalau kamu marah sama
dia?” tanyaku lagi. Kali ini Rena terdiam, dia memandang bukunya tapi aku yakin
dia nggak membaca. Dia seakan menahan kata-kata yang hendak keluar dari
mulutnya. Baru akan kuulang pertanyaanku bus yang akan kami tumpangi sudah terlihat.
“Karena dia emang nggak perlu tahu,” katanya mengulang kalimat yang sama. “Gimana
kalau dia tahu sendiri?” tanyaku. “Itu berarti dari kamu,” tuduhnya yang
seperti langsung menohok ulu hatiku. Kenapa aku, tanyaku dalam hati. “Becanda
kali, nggak usah pake melongo gitu dong, jelek tahu,” kata Rena iseng. Sial,
malah dibecandain. “Tapi kamu nggak akan cerita kan sama Nabila?” tanyanya
meyakinkan. “Kalau kamu nggak mau, ya aku nggak akan bilang,” kataku. Dia
mengangguk. “Kamu percaya kan?” tanyaku meyakinkan diri. Dia tersenyum, “Ya
percaya,lah. Yuk, naik,” ajaknya saat bus sudah berhenti di depan kami.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar, dan berbaring di
ranjang. Masih terngiang-ngiang tentang apa yang dikatakan Rena tentang Nabila.
Rena yang nggak mau Nabila tahu kalau dia marah. Nabila yang tersenyum pada
Rena. Ketiganya berputar-putar dikepalaku, memaksaku untuk berpikir walaupun
sebenarnya aku pusing. Ya udah lah, mungkin lebih baik kalau Nabila nggak tahu,
masalahnya jadi tidak menyebar. Mungkin Rena juga menghindari permusuhan. Semoga
aja masalahnya tidak memanjang. Kupejamkan mataku sejenak untuk menghilangkan
penat dikepalaku.
Baru saja akan tertidur, handphoneku berbunyi. Tegar sms.
Tegar: ‘Tar,
kamu tadi sama Rena ngomongin apa aja sih?’
Aku: ‘Rena curhat, emang kenapa?’
Tegar: ‘Aku
lupa matiin record hapenya Nab, kayaknya pembicaraan kalian kerekam deh. Dan
dia tahu. Soalnya dia nangis, pas aku samperin ke kelas. Pas aku tanya kenapa,
katanya Rena benci sama dia, emang kalian ngomongin apa sih??’
What????? Gawaaaaaattt, gimana
nih??? Duuh Tegar pake ninggalin hape segala sih, bikin masalah aja tu anak.
Aku: ‘hah? Jadi Nabila tahu dong, semua
yang aku dan Rena omongin tadi. Mana Rena suruh aku ngerahasiain lagi. gimana
dong?’
Tegar: ‘Bingung
juga’
Aku: ‘Kamu sih, pake ninggalin hape
segala’
Tegar: ‘Kamu
mau marah sama aku juga?’
Aku: ‘Bukan
marah, terus gimana coba?’
Tegar tidak membalas. Aku membuka facebook, siapa tahu Bagas
membalas koment ku. Kulihat dia tidak membalasnya tapi mengirim inbox. Kubuka
inbox dari Bagas. Isinya ‘Nabila
ngajak aku sama Bagas beli kado buat Rena, besok kan dia ulang tahun. Katanya
dia juga mau bikin kejutan. Kamu jangan bilang-bilang ya, hehehe’. Tambah parah nih urusan, bener-bener aku nggak bisa ngebayangin
gimana suasana di kelas besok.
***
Keesokan harinya disekolah,aku bingung harus bilang sama Rena apa
nggak, kalau Nabila udah tahu semuanya, aku bingung sungguh. Saat aku masuk
kelas Rena udah duduk di bangku nomor dua dari depan, tempat dimana ia dan
Nabila duduk bersama. Sepertinya Rena sudah menghilangkan rasa marahnya pada
Nabila, tapi sekarang,,,,,. Aduuh, malah Nabila yang gentian marah sama Rena.
Gimana nih! Rena pasti ngira kalau aku yang bilang ke Nabila. Duuuuuhhh…..
Aku memilih duduk di bangku nomor dua dari belakang, agak jauh dari
Rena. Pura-pura nggak lihat sekalian. Aku takut sungguh. Rena emang baik, tapi
jangan sampe bikin dia marah. Panjang ntar urusannya. Nggak lama kemudian Tegar
datang, dia duduk didepanku. Sempat ngelirik aku tapi nggak tak bales. Aku terlalu
gugup. Kulihat Bagas di belakangnya. Kayaknya dia juga udah tahu tentang
Nabila. Dan akhirnya Nabila pun datang, dan dia nggak duduk sama Rena. Yakin
Rena nggak mungkin sms Nabila untuk ini. Bener aja, tahu Nabila nggak mau duduk
sama Rena, seketika Rena berpaling ke arahku, sumprit jantungku serasa rontok
melihat tatapannya. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah menggeleng, sebagai
isyarat pada Rena bahwa bukan aku yang memberi tahu Nabila.
Selama pelajaran aku sungguh nggak bisa konsen. Bel pulang membuatku
lumayan rileks, tapi justru di sini peraduan baru akan dimulai. Kulihat Nabila
menghampiri Rena, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan yang kutebak sebagai kado
untuk Rena dan meletakkannya di meja Rena. “Kemarin aku beli ini,,,,,, buat
kamu,” kata Nabila pelan, aku nyaris nggak dengar. Hanya begitu, dia lalu
mengenakan tasnya dan beranjak keluar. “Buat apa?!” tanya Rena ketus. “Aku
heran ya, sama kamu. Kamu udah nggak mau lagi temenan sama aku?” ucap Rena
dengan marah. “Bukannya kamu yang ngomong kaya gitu kemarin?” balas Nabila tapi
dengan suara perlahan dan dalam. Rena menengok lagi ke arahku. Aku menggeleng
semakin kencang. Nabila juga melihatku “Bukan. Aku tahu ini bukan dari Tari,
tapi dari ini,” kata Nabila sambil memperlihatkan handphone barunya yang
kemarin. “Tegar, lupa lagi. Dia ninggalin ini di laci meja di mana kalian duduk
kemarin. Dan record yang dia nyalain waktu istirahat belum di matiin. Aku udah
dengar semua Ren. Maaf udah banyak
ngerepotin kamu. Tapi nggak seharusnya kamu, ngerahasiain ini dan cerita sama
orang lain,” ucap Nabila yang nada marahnya mulai muncul. “Kamu anggap Tari
orang lain?” tanya Rena menantang. “Seenggaknya kamu bilang sama aku,” balas
Nabila. “Apa dengan aku bilang sama kamu lalu kamu akan ngerti dan berubah, heh?
Orang kaya kamu sudah bisa ditebak apa yang bakal kamu lakuin. Kamu cuma akan
minta maaf, dan setelah aku maafin, kamu ulangi lagi. Jadi buat apa aku bilang?”
tantang Rena lagi. “Lalu aku harus apa? Minta maaf sama temen-temen kamu,
batalin jual motor ke sodaraku dan menjualnya ke temen ayah kamu. Ren, kamu
nggak pernah bilang itu sama aku. Kamu nggak pernah bilang kalau kamu sms
temen-temen kamu buat beli jualanku. Kamu nggak bilang kamu dapet orang yang
mau beli motorku,” kata Nabila kulihat matanya mulai berkaca-kaca. “Dan kamu
sama sekali nggak mau ngehargain usahaku untuk nerbitin novel kamu,” balas
Rena. Mendengar itu, Nabila membuka tasnya lagi dan mengambil sebuah buku lalu
memperlihatkannya pada Rena. Jangankan Rena aku saja terperangah melihatnya.
“Diterbitkan 2 hari yang lalu. Aku pengen ngasih tahu kamu ini kemaren. Tapi
kemaren kamu jauhin aku,” kata Nabila. Rena masih terdiam melihat novel itu.
“Honornya langsung keluar saat aku datang kesana. Dan aku beli itu,” kata
Nabila sambil menunjuk bungkusan tadi. “Tadinya aku mau ngajak kamu, tapi kamu
lama banget. Akhirnya aku ngajak Tegar dan Bagas, aku pengen bikin surprise.
Sampai aku tahu kalau Tegar ninggalin hapeku di sini, dan denger rekaman itu,”
lanjut Nabila. Rena tidak menjawab. “Dan kamu tahu Ren, dari mana asal hape
ini,” kata Nabila sambil menunjukkan hapenya lagi. Rena yang masih diam mendongak
menatap handphone itu. “Aku emang nggak jualan di sekolah, karena aku nggak
berani. Nyaliku kecil buat jualan di sini,” Nabila diam sesaat lalu
melanjutkan, “Tapi aku jualan di rumah, kadang ke pasar. Hasilnya aku tabung. Kamu
bener, aku nggak pernah minta uang saku lagi sejak itu. Dan aku bisa beli hape
pake duit sendiri,” ucap Nabila melembut. Aku terharu mendengarnya. “Kamu tahu
Ren, aku cerita sama kamu bukan untuk minta tolong. Aku hanya minta saran, yang
mungkin bisa kulakukan untuk mengatasi masalahku,” kata Nabila lagi. “Terus kenapa
kamu nggak jadi jual motor?” tanya Rena. “Sepupuku butuh motor, aku jual
motorku ke dia,” jawab Nabila. Rena memandang novel itu lagi. “Berapa lama kamu
nyelesaiin ini?” tanya Rena lagi. “Satu minggu, sebenernya aku…” jawab Nabila.
“Harusnya dua hari kan?” sindir Rena sambil tersenyum. Nabila pun ikut
tersenyum.
Huuufft, seneng deh liat mereka baikan. Well, satu hal yang bisa
kusimpulkan dari Rena dan Nabila adalah mereka itu saling menyayangi tapi
kurang komunikasi. Bagas dan Tegar pun melirikku sambil tersenyum. “Well, this
problem is clear, right?” seru Tegar mencairkan suasana. “Kamu tuh, nggak ada rasa-rasa
bersalah ya?” tegurku. “Tadinya sih, tapi kan kalau aku gak ninggalin hapenya
Nab, masalahnya gak akan setuntas ini,” tukas Tegar bangga. “Sebenarnya tuh dah
selesai, tapi kamu nambahin bumbu panasnya,” tambah Bagas. “Oke-oke, udah yaa…
kita main ke rumah Nab yuk, sekalian jajan jualannya Nab,” ajak Rena senang.
“Wahh, sip-sip,” seru kami. “Eh, tungguu, aku nggak jual jajanan tauu!” tukas
Nabila. “Terus??” tanya kami heran lagi. “Sembako, aku jualan sembako sama
ibuku, di kampung lebih bayak yang butuh itu,” jelas Nabila. “Walah, terus
gimana?” tanya Tegar yang jelas gak nyambung sama yang namanya sembako. “Ya
nggak papa to? Yang pentingkan main. Mempererat tali silaturahim gitu lho,”
tambahku sok bijak. “Nah, itu. Bener banget,” bela Rena. “Gini aja, nanti aku
traktir kalian mi ayam deket rumahku, gimana?” tawar Nabila menengahi. “Aku
ayamnya aja Nab, ntar tak mi in sendiri,” ujar Bagas yang masih tetap dengan kegaringannya. “Maksud loo?????”