Rabu, 15 Mei 2013

OMONG KOSONG



Namaku Tari, hari ini aku melihat temanku Rena bersikap tidak seperti biasanya. Dari berangkat mukanya udah asem banget. Dia bahkan tidak duduk satu bangku dengan Nabila seperti biasanya. Aku berpikir, apa mungkin dia sedang marah dengan Nabila. Namun kulihat sikap Nabila seperti sedang tidak punya masalah apa-apa, dia hanya sibuk dengan handphone barunya. Potret sana potret sini, yah dia memang senang memotret. Hasil potretannyajuga bagus dia pernah bilang padaku dia ingin menjadi fotographer. Tapi apalah Nabila itu, dia selalu menginginkan banyak hal. Dari menjadi seorang guru, penyiar, kameramen, penulis scenario, semua dia jadikan cita-cita. Tapi ya tak apalah dari pada tidak punya cita-cita.
“Hoy Nab, uweeeee hape baru nih, kenalan dong,” seru Bagas yang baru saja datang bersama Tegar. “Yeeeee, nggak lucu,” ledek Nabila. “Emang nggak ngelucu,” jawab Bagas tidak mau kalah. “Duduk sama aku Gas, bangku nomor 3 dari belakang,” pinta Nabila. Kulihat Bagas sempat melirik Rena. Mungkin dia juga merasa aneh kenapa Nabila tidak duduk bersama Rena. “Siip!” kata Bagas sambil meletakkan tasnya disamping tas Nab. “Eh sini lihat, kayaknya bagus tuh. Fiturnya apa aja?” tanya Tegar yang emang selalu tergila-gila sama barang elektronik, termasuk hape. Nabila memperlihatkan hapenya pada Tegar. “Kamera 3mp, radio, recording, tv, gprs, games, mmc 4 gb, memori internal 2 gb. Wuih, keren. Pinjem bentar ya,” pinta Tegar. “Buat apa?” tanya Nabila nggak rela, karena biasanya Tegar sering lupa ngembaliin barang orang yang dia pinjem. “Halah bentar aja, bateray  nggak low kan” rajuknya. “”Enggak sih. Ya udah deh, nih. Tapi ntar balikin lho,” kata Nabila akhirnya, mungkin dia nggak enak kalau dibilang pelit sama teman yang lain.
“Tari, kamu lagi ngapain?” Tanya Bagas padaku. “Ngerjain pr matematika. Kamu udah belom?” kataku. “Hah??Emang ada?” tanyanya kaget. Ini dia pertanyaan terburuk pelajar masa kini, pikirku. “Ya ada lah, kalau nggak ngapain aku repot-repot ngerjain,” kataku. Yah, sama aja, nggak beda jauh aku sama Bagas. Cuma ngerjain pr nya pas deadline, hadeh. Bagas langsung mengeluarkan buku matematikanya. “Aku udah ngerjain belum ya?” katanya rada aneh. Heeehh? Jelas-jelas nggak tahu ada pr, ngerjain apaan. “Haaaa, aku belum ngerjain!” serunya. Tuh kan, kataku dalam hati. “Tar, pinjem punya kamu dooong,” pinta Bagas memelas. “Orang aku juga baru ngerjain,” kataku.
“Aduh, gimana nih. Naaaab, udah ngerjain pr matematika belom?” Tanya Bagas pada Nabila. “Udah doong,” kata Nabila. “Aku pinjem,” pinta Bagas. “Ambil aja di tas, buku warna biru,” kata Nabila yang masih asyik ngerumpi di depan kelas. “Kyaaaaaaa, aku juga belum ngerjain!” teriak Tegar tiba-tiba yang tadinya masih anteng nongkrong di pojokan. Puluhan pasang mata dikelas itu pun tertuju padanya. “Lhoh aku duduk mana nih, kok udah penuh semua,” tanya Tegar heran. “Salah sendiri tadi nggak langsung duduk,” kata Nabila. “Ya kan tu di depan masih kosong,” tunjuk Bagas disela-sela kesibukannya menyalin pr Nabila. “Oh tidak terimakasih,” tolak Tegar. Dia memang anti duduk di depan. Baginya duduk di depan itu seperti anak SD, yang mesti duduk bersedekap sambil memandang papan tulis.
Dia memutar pandangan ke seluruh ruangan dan terhenti ke arah kursi kosong di sebelah Rena di meja paling belakang. “Mendingan aku duduk sama Rena,” kata Tegar sambil berjalan ke arah di mana Rena duduk. “Ren, aku duduk sama kamu ya,” kata Tegar, Rena mengangguk. “Tumben nggak duduk sama Nab?” tanya Tegar seraya duduk. “Nggak papa,” kata Rena tanpa menengok. “Owh,” kata Tegar. Dia langsung diam, sambil memandang ke arah Nabila. Sepertinya dia juga paham kalau ada masalah antara Rena dan Nabila. “Ren, bantuin aku ngerjain matematika dong,” pintanya sambil mengalihkan perhatian. “Aku belum ngerjain,” kata Rena. “Ha? Tumben?” tanya Tegar heran. Aku sendiri juga heran Rena yang biasanya rajin hari ini belum ngerjain pr.
***
Saat pulang sekolah, kelas cukup sepi, tinggal aku dan Rena. Nabila sudah pulang bersama Bagas dan Tegar. Kurasa Rena sengaja mengulur waktu sampai semua  orang keluar. Setelah benar-benar sepi aku menghampiri Rena yang masih cuek. “Hey, nggak pulang?” tanyaku basa-basi. “Nanti,” jawabnya. “Udah sore lho?” kataku lagi. “Kamu sendiri kenapa nggak pulang-pulang?” balasnya agak ketus. Rena emang nggak kenal basa-basi, pikirku. Aku diam beberapa saat. “Nungguin kamu,” kataku. Hal itu membuat Rena terdiam beberapa menit, aku ikut menemani diamnya.
“Aku lagi sebel sama orang,” kata Rena akhirnya. “Belom pernah aku semarah ini hanya karena satu orang itu,” lanjutnya. “Yang kamu maksud…,” tanyaku pura-pura nggak tahu. “Nabila lah, siapa lagi,” jawabnya masih dengan nada marah. Aku mengangguk, “Dia kenapa?” tanyaku. “Dia tuh manusia paling omdo sedunia yang pernah aku temuin, temenan sama dia tuh bikin capek,” katanya ketus. “Kenapa emang?” tanyaku lagi. “Dia pernah curhat sama aku kalau dia lagi sedih karena perekonomian ortunya lagi susah. Dia bilang pengen kerja, tapi ortunya nggak ngijinin. Wajar aja kan kalau aku kasih saran. ‘Sekolah kita kan kejuruan, coba aja jualan ke kelas-kelas. Jualan apa gitu, sekedar makanan ringan. Kemungkinan laku, lumayan. Kalau kamu mau, nanti aku bantuin jual’ aku udah nawarin gitu. Dianya jawab, ‘Iya sih, besok coba deh’. Berati kan dia mau, ya aku terus sms temen-temenku bilang kalau Nabila sama aku mau jualan. Tapi esoknya dia datang nggak bawa apa-apa, dengan enaknya dia bilang ‘Nggak jadi Ren, aku nggak berani,’ aku juga jadi nggak enak kan sama temen-temenku,” gerutunya.
Rena emang temennya banyak, dia terkenal di sekolah ini. Secara dia anak donator utama di sini. “Hmmmm,” gumamku sambil memperhatikan cerita Rena. Sebenernya sih aku mau menanggapi, tapi yakin deh ujung-ujungnya pasti nggosip. Nggak lucu dong ngegosipin temen sendiri, bisa-bisa malah nambah masalah lagi. Kulihat Rena menatapku beberapa saat, mungkin waspada kalau-kalau aku tertidur. Dia pun melanjutkan ceritanya.
“Yang kedua, dia bilang mau jual motornya. Dia minta tolong sama aku, oke aku tolongin. Dua hari kemudian aku dapet pembelinya, temen ayahku di kantor. Temen ayahku itu udah nyiapin duitnya, aku tinggal ngasih tau Nabila, eh dia malah jual kredit sama sodaranya,” keluh Rena. “Dia nggak mau ngerepotin kamu kali Ren,” kataku asal. “Beh, nggak mau ngerepotin. Terus ngapain dia cerita sama aku, kalau dia nganggep aku temen dan dia cerita masalahnya sama aku, berarti dia minta tolong. Kalau aku bisa nolong kenapa enggak,” ucap Rena tegas. Aku nggak berani negur lagi, kubiarkan Rena mengungkapkan apa yang dirasakannya. Lebih baik begitu dari pada dia menyimpan amarahnya.
“Dan, ini yang paling nyebelin, dia bilang dia suka nulis dan punya banyak cerita yang dia buat waktu smp, tapi belum satupun diterbitkan karena dia nggak tahu kemana harus menyampaikan cerita-ceritanya itu. Terus aku coba browsing, nanya sama temen ayahku akhirnya aku dapet media yang bisa dikirimi karya. Aku bilangin itu ke Nabila, tapi dia malah bilang ‘hah, yang bener tapi ceritaku yang udah jadi hilang tuh, gimana ya, kalau aku buat lagi kira-kira kekejar nggak ya,’ kalau nggak lama-lama ya kekejar aku bilang gitu. ‘iya deh, nanti aku mulai buat’ ‘kira-kira selesai berapa hari’ tanyaku ‘dua-tiga hari mungkin’ ‘aku kaget ‘emang bisa’ tanyaku. ‘dulu sih aku bisa,’ katanya. ‘ya dah ntar kalau udah selesai tak anterin ke tempatnya’.
Tiga hari kemudian aku nanya udah selesai belum, dia bilang belum,baru dapat awalannya. Hari keempat, baru mau nyusun masalah. Hari kelima, belum dapat konflik. Hari keenam ragu-ragu buat nyelesain. Seminggu dia nggak ngasih kabar apa-apa.Dua minggu, tiga minggu, sebulan nyampe sekarang dia diem aja. Apanya yang dua hari coba. Dia tuh,,, gimana ya, bingung aku njelasinnya temenan sama dia tuh cuma bikin capek, nggak bisa dimengerti. Bilangnya lagi susah, tapi tiap ditolongin nggak diterima. Terus aku harus apa coba,” cerita Rena. Kami diam agak lama.
Mendegar cerita Rena aku jadi inget, dulu waktu masih kelas 1, dia bilang pengen kerumahku. Tapi sampai sekarang dia nggak pernah datang. Sekedar ngomong nggak jadi pun enggak. Padahal aku udah nyiapin banyak hal biar dia nanti betah. Tuh kan nggosip! Untungnya dalam hati, hehe. Aku berkata, “Kamu mau nggak, kalau aku cerita ini ke Nab besok, biar dia tahu kalau kamu sebel sama dia. Liat tanggapan dia gimana, biar dia bisa koreksi diri juga,” usulku. Tapi dia menggeleng, “Nggak. Dia nggak perlu tahu,” kata Rena tegas. “Kenapa?” tanyaku heran. “Nggak papa,” katanya. “Tapi kamu akan baikan sama Nabila kan?” tanyaku cemas. Sedih juga kalau ada temen kita yang musuhan. “Tergantung dia, bisa berubah apa enggak,” jawabnya. Denger itu aku pengen banget ngulangin usulku untuk memeritahu Nabila. Tapi, “Udah yuk, pulang,” ajaknya tiba-tiba ramah, mungkin ini efek dari curhat. “Makasih ya, udah mau dengerin aku, curhat sama kamu enak juga” kata Rena sambil tersenyum, manis deh. “Masa sih? Iya, sama-sama,” kataku juga sambil tersenyum.
***
Aku dan Rena pun keluar kelas, belum jauh dari kelas, kami melihat Nabila dari kejauhan. “Kenapa Naab?” tanyaku heran melihat Nabila yang sudah pulang dari tadi berlari kearah kami. “Tegar nih, hapeku ditinggal di kelas,” katanya menggerutu pada Tegar. “Lha Tegarnya mana?” tanyaku. “Di parkiran,” katanya. “Kalian pulang bareng?” tanyaku lagi agak heran, karena karena rumah Tegar dan Nabila tidak searah. “Enggak, tadi sama Bagas juga. Tadi aku ngajak mereka ke ….. ,” ucap Nabila memutuskan sendiri perkataannya. Aku jadi agak curiga. Tapi, entah benar atau aku berkhayal bahwa sekilas tadi aku sempat melihat Nabila tersenyum pada Rena. Aku jadi agak bingung. Nabila tahu nggak sih kalau Rena marah sama dia. “….adadeeeh,” katanya lalu berlari masuk kelas. “Ya, udah. Aku sama Rena duluan ya?” kataku. “Ya,” seru Nabila dari dalam.
Kami pun melanjutkan perjalanan pulang kami. Saat melewati parkiran kami melihat Tegar berjalan kearah kami. “Wooii Tegar, gimana siih. Hape orang ditinggal,” ledekku. Dia menjawabnya dengan nyengir kuda. “Lupa,” katanya. “Nab, di kelas?” tanya Tegar. “Iya, katanya sama Bagas?” tanyaku karena yang kulihat hanya Tegar, tak kulihat Bagas disisi manapun. “Di sono,” katanya sambil menunjuk ke arah gerbang. “Mana?” tanyaku lagi karena tak melihat siapapun di gerbang. “Bukan di gerbang, tapi di sono!” ucap Tegar sambil meninggikan telunjuknya. “Tau ah! Emang kalian kemana sih?” tanyaku penasaran. “Ke supermarket,” kata Tegar. “Supermarket? Ngapain?” tanyaku heran mendengar Tegar, Nabila dan Bagas ke supermarket. “Adadeeeeh, tenang aja rahasia kok, hehe,” jawabnya. “Ah, kamu tuh. Ditanyain gitu aja pelit amat jawabnya,” kataku sebel. Dia nyengir lagi. “Ke sana dulu ya,” katanya, sambil berjalan menuju kelas kami.
***
Tak lama kami sampai di halte depan sekolah. Kami duduk dibangku halte yang sudah sepi karena jam sudah menunjukkan jam 2.30 p.m. Kami memutuskan untuk naik bus yang biasa kutumpangi, karena rumah Rena sejalur dengan bus itu. Walaupun, rumahku lebih jauh 3km dari rumahnya. Biasanya bus itu datang 10 menit lagi. Sambil menunggu kulihat Rena mengeluarkan sebuah buku dari tas dan membacanya. Dia memang anak yang rajin. Dia juara dikelas kami. Dia orang yang perhatian juga, tiap ada temen kesusahan dia selalu bantu. Termasuk bantu ngasih jawaban waktu ulangan, kadang-kadang. Aku bangga punya temen kaya dia. Walaupun kaya tapi dia baik. Sayang, emosinya tinggi.
Bosan juga nemenin orang yang lagi asik membaca, sedang kita duduk tanpa kata dan tidak melakukan apa-apa. Kukeluarkanlah handphone dari tasku yang masih non-aktif. Sengaja kumatikan tadi pagi, karena nggak mau kena resiko disita. Kuaktifkan handphoneku, lalu,,,, buka facebook, hehe. Cukup rame juga dunia di dalam situ. Ada Febri yang lagi masak. Nisa yang lagi boring. Dista yang lagi jalan-jalan sama Ana di pasar depan rumah. Anto yang lagi ngalamun di pinggir kolam. eh ada Bagas yang lagi sendirian di supermarket, aku komen dia sekalian cari tahu ‘kasian, ngapain disana? Belanja ya??? wkwkwk,’. Dibawahnya ada Nabila yang lagi seneng karena barang yang dia cari kebeli.
Aku jadi teringat sama sikap Nabila waktu berpapasan tadi. Rasa penasaranku pun kembali muncul. Kulihat Rena yang masih asik membaca. Daripada penasaran, kupaksakan diri untuk bertanya saja. “Ren,  Nabila tahu nggak sih kalau kamu marah sama dia?” tanyaku. Rena menghentikan sejenak bacaannya, lalu menggeleng. “Dia nggak tahu,” jawab Rena. Aku terkejut mendengarnya. “Terus, kenapa Nabila tadi nggak duduk sama kamu?” tanyaku heran. “Tadi malem aku sms dia kalau aku mau duduk di belakang, dia kan anti banget duduk di belakang. “Terus dia tadi juga nggak ngobrol sama kamu?” tanyaku lagi. “Ya aku cuma bilang, kalau aku lagi punya masalah jadi nggak mau diganggu ,” katanya. “Itu semua kamu lakuin biar hari ini kamu nggak duduk sama Nabila?” tanyaku heran, nyampe segitu amat sih, batinku. “Ya,” jawabnya. “Kenapa kamu nggak mau dia tahu kalau kamu marah sama dia?” tanyaku lagi. Kali ini Rena terdiam, dia memandang bukunya tapi aku yakin dia nggak membaca. Dia seakan menahan kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya. Baru akan kuulang pertanyaanku bus yang akan kami tumpangi sudah terlihat. “Karena dia emang nggak perlu tahu,” katanya mengulang kalimat yang sama. “Gimana kalau dia tahu sendiri?” tanyaku. “Itu berarti dari kamu,” tuduhnya yang seperti langsung menohok ulu hatiku. Kenapa aku, tanyaku dalam hati. “Becanda kali, nggak usah pake melongo gitu dong, jelek tahu,” kata Rena iseng. Sial, malah dibecandain. “Tapi kamu nggak akan cerita kan sama Nabila?” tanyanya meyakinkan. “Kalau kamu nggak mau, ya aku nggak akan bilang,” kataku. Dia mengangguk. “Kamu percaya kan?” tanyaku meyakinkan diri. Dia tersenyum, “Ya percaya,lah. Yuk, naik,” ajaknya saat bus sudah berhenti di depan kami.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar, dan berbaring di ranjang. Masih terngiang-ngiang tentang apa yang dikatakan Rena tentang Nabila. Rena yang nggak mau Nabila tahu kalau dia marah. Nabila yang tersenyum pada Rena. Ketiganya berputar-putar dikepalaku, memaksaku untuk berpikir walaupun sebenarnya aku pusing. Ya udah lah, mungkin lebih baik kalau Nabila nggak tahu, masalahnya jadi tidak menyebar. Mungkin Rena juga menghindari permusuhan. Semoga aja masalahnya tidak memanjang. Kupejamkan mataku sejenak untuk menghilangkan penat dikepalaku.
Baru saja akan tertidur, handphoneku berbunyi. Tegar sms.
Tegar: ‘Tar, kamu tadi sama Rena ngomongin apa aja sih?’
Aku: ‘Rena curhat, emang kenapa?’
Tegar: ‘Aku lupa matiin record hapenya Nab, kayaknya pembicaraan kalian kerekam deh. Dan dia tahu. Soalnya dia nangis, pas aku samperin ke kelas. Pas aku tanya kenapa, katanya Rena benci sama dia, emang kalian ngomongin apa sih??’
What????? Gawaaaaaattt,  gimana nih??? Duuh Tegar pake ninggalin hape segala sih, bikin masalah aja tu anak.
Aku: ‘hah? Jadi Nabila tahu dong, semua yang aku dan Rena omongin tadi. Mana Rena suruh aku ngerahasiain lagi. gimana dong?’
Tegar: ‘Bingung juga’
Aku: ‘Kamu sih, pake ninggalin hape segala’
Tegar: ‘Kamu mau marah sama aku juga?’
 Aku: ‘Bukan marah, terus gimana coba?’
Tegar tidak membalas. Aku membuka facebook, siapa tahu Bagas membalas koment ku. Kulihat dia tidak membalasnya tapi mengirim inbox. Kubuka inbox dari Bagas. Isinya ‘Nabila ngajak aku sama Bagas beli kado buat Rena, besok kan dia ulang tahun. Katanya dia juga mau bikin kejutan. Kamu jangan bilang-bilang ya, hehehe’. Tambah parah nih urusan, bener-bener aku nggak bisa ngebayangin gimana suasana di kelas besok.
***
Keesokan harinya disekolah,aku bingung harus bilang sama Rena apa nggak, kalau Nabila udah tahu semuanya, aku bingung sungguh. Saat aku masuk kelas Rena udah duduk di bangku nomor dua dari depan, tempat dimana ia dan Nabila duduk bersama. Sepertinya Rena sudah menghilangkan rasa marahnya pada Nabila, tapi sekarang,,,,,. Aduuh, malah Nabila yang gentian marah sama Rena. Gimana nih! Rena pasti ngira kalau aku yang bilang ke Nabila. Duuuuuhhh…..
Aku memilih duduk di bangku nomor dua dari belakang, agak jauh dari Rena. Pura-pura nggak lihat sekalian. Aku takut sungguh. Rena emang baik, tapi jangan sampe bikin dia marah. Panjang ntar urusannya. Nggak lama kemudian Tegar datang, dia duduk didepanku. Sempat ngelirik aku tapi nggak tak bales. Aku terlalu gugup. Kulihat Bagas di belakangnya. Kayaknya dia juga udah tahu tentang Nabila. Dan akhirnya Nabila pun datang, dan dia nggak duduk sama Rena. Yakin Rena nggak mungkin sms Nabila untuk ini. Bener aja, tahu Nabila nggak mau duduk sama Rena, seketika Rena berpaling ke arahku, sumprit jantungku serasa rontok melihat tatapannya. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah menggeleng, sebagai isyarat pada Rena bahwa bukan aku yang memberi tahu Nabila.
Selama pelajaran aku sungguh nggak bisa konsen. Bel pulang membuatku lumayan rileks, tapi justru di sini peraduan baru akan dimulai. Kulihat Nabila menghampiri Rena, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan yang kutebak sebagai kado untuk Rena dan meletakkannya di meja Rena. “Kemarin aku beli ini,,,,,, buat kamu,” kata Nabila pelan, aku nyaris nggak dengar. Hanya begitu, dia lalu mengenakan tasnya dan beranjak keluar. “Buat apa?!” tanya Rena ketus. “Aku heran ya, sama kamu. Kamu udah nggak mau lagi temenan sama aku?” ucap Rena dengan marah. “Bukannya kamu yang ngomong kaya gitu kemarin?” balas Nabila tapi dengan suara perlahan dan dalam. Rena menengok lagi ke arahku. Aku menggeleng semakin kencang. Nabila juga melihatku “Bukan. Aku tahu ini bukan dari Tari, tapi dari ini,” kata Nabila sambil memperlihatkan handphone barunya yang kemarin. “Tegar, lupa lagi. Dia ninggalin ini di laci meja di mana kalian duduk kemarin. Dan record yang dia nyalain waktu istirahat belum di matiin. Aku udah dengar  semua Ren. Maaf udah banyak ngerepotin kamu. Tapi nggak seharusnya kamu, ngerahasiain ini dan cerita sama orang lain,” ucap Nabila yang nada marahnya mulai muncul. “Kamu anggap Tari orang lain?” tanya Rena menantang. “Seenggaknya kamu bilang sama aku,” balas Nabila. “Apa dengan aku bilang sama kamu lalu kamu akan ngerti dan berubah, heh? Orang kaya kamu sudah bisa ditebak apa yang bakal kamu lakuin. Kamu cuma akan minta maaf, dan setelah aku maafin, kamu ulangi lagi. Jadi buat apa aku bilang?” tantang Rena lagi. “Lalu aku harus apa? Minta maaf sama temen-temen kamu, batalin jual motor ke sodaraku dan menjualnya ke temen ayah kamu. Ren, kamu nggak pernah bilang itu sama aku. Kamu nggak pernah bilang kalau kamu sms temen-temen kamu buat beli jualanku. Kamu nggak bilang kamu dapet orang yang mau beli motorku,” kata Nabila kulihat matanya mulai berkaca-kaca. “Dan kamu sama sekali nggak mau ngehargain usahaku untuk nerbitin novel kamu,” balas Rena. Mendengar itu, Nabila membuka tasnya lagi dan mengambil sebuah buku lalu memperlihatkannya pada Rena. Jangankan Rena aku saja terperangah melihatnya. “Diterbitkan 2 hari yang lalu. Aku pengen ngasih tahu kamu ini kemaren. Tapi kemaren kamu jauhin aku,” kata Nabila. Rena masih terdiam melihat novel itu. “Honornya langsung keluar saat aku datang kesana. Dan aku beli itu,” kata Nabila sambil menunjuk bungkusan tadi. “Tadinya aku mau ngajak kamu, tapi kamu lama banget. Akhirnya aku ngajak Tegar dan Bagas, aku pengen bikin surprise. Sampai aku tahu kalau Tegar ninggalin hapeku di sini, dan denger rekaman itu,” lanjut Nabila. Rena tidak menjawab. “Dan kamu tahu Ren, dari mana asal hape ini,” kata Nabila sambil menunjukkan hapenya lagi. Rena yang masih diam mendongak menatap handphone itu. “Aku emang nggak jualan di sekolah, karena aku nggak berani. Nyaliku kecil buat jualan di sini,” Nabila diam sesaat lalu melanjutkan, “Tapi aku jualan di rumah, kadang ke pasar. Hasilnya aku tabung. Kamu bener, aku nggak pernah minta uang saku lagi sejak itu. Dan aku bisa beli hape pake duit sendiri,” ucap Nabila melembut. Aku terharu mendengarnya. “Kamu tahu Ren, aku cerita sama kamu bukan untuk minta tolong. Aku hanya minta saran, yang mungkin bisa kulakukan untuk mengatasi masalahku,” kata Nabila lagi. “Terus kenapa kamu nggak jadi jual motor?” tanya Rena. “Sepupuku butuh motor, aku jual motorku ke dia,” jawab Nabila. Rena memandang novel itu lagi. “Berapa lama kamu nyelesaiin ini?” tanya Rena lagi. “Satu minggu, sebenernya aku…” jawab Nabila. “Harusnya dua hari kan?” sindir Rena sambil tersenyum. Nabila pun ikut tersenyum.
Huuufft, seneng deh liat mereka baikan. Well, satu hal yang bisa kusimpulkan dari Rena dan Nabila adalah mereka itu saling menyayangi tapi kurang komunikasi. Bagas dan Tegar pun melirikku sambil tersenyum. “Well, this problem is clear, right?” seru Tegar mencairkan suasana. “Kamu tuh, nggak ada rasa-rasa bersalah ya?” tegurku. “Tadinya sih, tapi kan kalau aku gak ninggalin hapenya Nab, masalahnya gak akan setuntas ini,” tukas Tegar bangga. “Sebenarnya tuh dah selesai, tapi kamu nambahin bumbu panasnya,” tambah Bagas. “Oke-oke, udah yaa… kita main ke rumah Nab yuk, sekalian jajan jualannya Nab,” ajak Rena senang. “Wahh, sip-sip,” seru kami. “Eh, tungguu, aku nggak jual jajanan tauu!” tukas Nabila. “Terus??” tanya kami heran lagi. “Sembako, aku jualan sembako sama ibuku, di kampung lebih bayak yang butuh itu,” jelas Nabila. “Walah, terus gimana?” tanya Tegar yang jelas gak nyambung sama yang namanya sembako. “Ya nggak papa to? Yang pentingkan main. Mempererat tali silaturahim gitu lho,” tambahku sok bijak. “Nah, itu. Bener banget,” bela Rena. “Gini aja, nanti aku traktir kalian mi ayam deket rumahku, gimana?” tawar Nabila menengahi. “Aku ayamnya aja Nab, ntar tak mi in sendiri,” ujar Bagas yang masih tetap dengan kegaringannya. “Maksud loo?????”

MONA LIZA



“Perkenalkan teman-teman, nama saya Ramona Seza. Biasa dipanggil Mona. Saya berasal dari Jawa Tengah. Saya sangat senang bisa berkuliah di Jakarta seperti ini, saya ingin menjadi mahasiswa yang aktif dan berprestasi,” ucapku saat perkenalan di hari pertama OSPEK. Ya, sekarang aku adalah seorang mahasiswa. Sungguh bangga aku bisa melanjutkan ke Jakarta. Aku tidak pernah menyangka bisa lolos ujian tulis SNMPTN mengingat aku tidak memiliki banyak modal dalam hal kecerdasan. Bisa dibilang ini adalah keberuntunganku. Kebetulan pamanku adalah dosen di universitas ini, karenanya aku sering mendengar beberapa temanku berkata kalau aku telah menyogok. Enak saja! Aku tidak suka dibilang begitu.

“Oke, selanjutnya,” ucap Fadli Fatin kakak senior yang ada di ruangan kami. Karina teman baru yang duduk di dekat bangkuku, berdiri dan memperkenalkan dirinya. “Selamat pagi semuanya, nama saya Karina Riandani. Biasa dipanggil Karin atau Rani. Saya berasal dari Pekanbaru. Saya berjanji akan belajar sungguh-sungguh karena sudah diterima di sini,” ucap Karin. “Bagus, lanjut,” ucap kak Fadli monoton. Lalu, gadis yang duduk disebelah Karin berdiri. Dia tinggi berambut panjang, berkacamata dan sangat cantik, dari penampilannya aku yakin dia bukan orang sembarangan. Aku belum pernah bertemu dengannya sebelum ini, tapi wajahnya cukup familiar. Mungkinkah dia artis ibukota yang baru? Jujur saja aku tidak terlalu memperhatikan televisi maupun majalah sejak kegencaran Ujian Nasional.

“Hey, Mona. Apa kamu mengenal dia? Aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat,” bisik Karin padaku. “Entahlah,” jawabku karena memang tidak yakin. Bahkan Karin yang berasal dari Kalimantan saja merasa familiar. Benarkah dia artis? Aku jadi penasaran, mungkin aku akan tanya padanya nanti.


“Perkenalkan, nama saya..,” perkenalannya terpotong oleh ucapan kak Fadli yang tiba-tiba. “Hey, bukankah kamu Alea Fey? Anggota girlband baru bernama Noisy?” “Aaaa iya, aku melihatmu di majalah Hello Girls minggu lalu. Kamu anggota termuda kan?” tambah Karin bersemangat. “Noisy, dari Floo Entertainment?” tambah yang lain. “Bukankah itu termasuk perusahaan musik terbesar di Indonesia?” tambah yang lain lagi. Kelas jadi tampak gaduh membeicarakan Alea dan Noisy.

Haaa, tebakanku benar. Mungkinkah aku berbakat jadi detektif? Kalau benar, aku akan pergi ke Jepang dan membantu Shinichi Kudou menangkap penjahat yang membuatnya menjadi Conan. Eeitt,,,maaf nggak sengaja.

Tapi aku tidak pernah berpikir akan begini. Siapa sangka bisa sekelas dengan artis ibukota. Bermimpi saja aku tidak berani. Dan ini kenyataan, ufufufuuu aku senang sekali. Kurasa aku harus mendekatinya agar aku bisa jadi temannya. Siapa tahu aku bisa ketularan jadi artis. Aku bisa menari dan menyanyi dengan cukup baik, aku juga bisa membuat lagu. Sayangnya aku baru bisa menjuarai sampai tingkat Provinsi. Hmmmm.

“Aaa, iya benar. Aku tidak menyangka sudah banyak yang tahu, kami akan debut pertama kali minggu depan. Kalian tolong lihat ya,” jawabnya sambil promo merendah dan sedikit tersipu. Wajahnya begitu cantik saat terenyum. “Kenapa memilih kuliah di sini?” tanya Kak Fadli  seperti wartawan. “Umm, ini karena Dinas orang tua saya pindah ke sini,” jawab Alea masih sambil senyum. “Jadi kalau orang tua kamu pindah dinas lagi kamu akan pindah universitas?” tanya kak Fadli lagi, Alea menggeleng. “Untuk kali ini, meski orang tua saya pindah dinas lagi, saya akan tetap di sini sampai saya lulus,” jawab Alea tetap dengan senyumnya. Aaah, sepertinya aku akan menjadi fans-nya. Tiba-tiba saja aku begitu mengaguminya.

“Kak Fadli suka girlband ya? Kok bisa langsung kenal sama Alea,” tanyaku penasaran. Tapi sepertinya pertanyaanku membuatnya mati kutu.  Yaah, kalau Noisy baru akan debut minggu depan, berarti belum tayang di tv. Satu-satunya media yang menyiarkannya adalah majalah Hello Girls, majalah remaja untuk cewek yang kudengar akhir-akhir ini sering menganggkat tema tentang girlband. Jadi, kak Fadli… hohoho. “Aaah, i-itu. Adik perempuanku penggemar girlband, jadi aku tahu,” ucapnya mencurigakan. Benarkah? Naluri detektifku muncul lagi, walaupun masih amatiran.

“Nah, sekarang waktunya istirahat. Gunakan untuk sholat, dan makan bekal kalian, kami beri waktu setengah jam dari sekarang,” ucap kak Fadli setelah semua mahasiswa baru sudah memperkenalkan diri, ia pun keluar ruangan. Aku buru-buru mendekati Alea. “Alea, bolehkah aku minta tanda-tanganmu? Aku sangat senang bisa satu kelas denganmu,” ucapku saat ia mengeluarkan mukenahnya. Ia tampak terkejut, saat aku didepannya. Mungkinkah aku bicara terlalu keras? Maaflah kalau begitu. “Ahh, aku juga Alea. Sepertinya aku akan menjadi fans-mu,” ucap Karin ikut-ikutan. Akibatnya, satu kelas merubungi Alea untuk minta tanda-tangan sepertiku. Hmmmm.

Aku buru-buru mengambil mukenahku, karena sudah lewat seperempat jam lebih sejak kerumunan itu. Aku nggak mau kekurangan waktu untuk makan. Aku yakin tempat wudhunya antri. Begitu kudapati mukenahku menyelip diantara perlengkapan OSPEK yang nggak sedikit, aku segera berlari menuju mushola bersama Karin. Alea tiba di masjid saat  aku selesai wudhu. Aku sengaja duduk melama-lamakan memakai mukenahku agar bisa sholat bareng Alea. Kami pun selesai hampir bersamaan, syukurlah aku bisa kembali ke kelas dengannya. Dan tentu saja dengan Karin dan yang lain.

“Alea, apakah di Noisy kamu juga di panggil begitu?” tanya Karin saat kami hamper tiba di kelas, teman baruku ini tampaknya lebih aktif. Ini sudah pertanyaannya yang ketiga. “Tidak, mereka biasa memanggilku Lea,” jawab Alea ramah. “Aaaa, Lea? Kurasa nama itu lebih mudah diucapkan,” komentar Karin. “Benarkah?” ucap Alea, eh bukan, ucap Lea. Karin mengangguk senang karena komentarnya disambut ramah. Aaargh aku iri, aku juga ingin tanya sesuatu. Tapi apa ya? Ummm “Lea, apakah Alea Fey itu nama asli?” tanyaku dengan asal saat kami hampir memasuki kelas. Uuuggh, ngomong apa aku ini. Harusnya aku tidak menanyakan begitu hanya karena kebanyakan artis nggak pake nama asli. “Ih, Mona. Nggak sopan tau?” tegur Karin. “Maaf,” sesalku. Tapi sepertinya Lea mau menjawab, dasar artis ramah, batinku senang walaupun sedikit nggak enak hati. “Nggak papa, itu nama…,” jawabannya terpotong karena seruan Karin yang tiba-tiba. Kenapa siiih??

“Hei, ini dompet siapa kok ada di mejaku?” tanya Karin saat sampai di mejanya. “Lho, bukan punya kamu. Aku tadi yang taruh situ, abis jatuhnya di deket mejamu,” ucap Feri yang duduk dibangku belakangnya. Karin menggeleng mem‘bukan’kan. “Punyaku itu,” ucapku berusaha merebut dompet itu tapi nggak kena karena Karin menghindar. “Masak sih? Buktiin dong, ada apa aja disini,” ucapanya membuatku geram, cari gara-gara ni anak. Yaa, walaupun aku tahu kalau dia hanya bercanda tapi gimana lagi. “Ada ktp, kartu pelajar SMP dan SMA, SIM motor,” jawabnya sekenaku. “Terus?” tanyanya sambil duduk santai di kursinya. “Duit,” jawabku mulai kesal. “Jumlahnya?” tanyanya lagi membuatku semakin kesal. “Mana aku inget, duitku keluar masuk ke dompet itu kapan aja,” jawabku sewot. “Hmmm, aku jadi nggak yakin ini punyamu,” jawabnya sambil nyengir. “Dasar! Kamu nggak liat ada fotoku di sana?” ujarku nggak sabar. “Owh, iya ya,” ucapnya membuatku kesal. Tapi ia langsung terdiam dan tampak khusyuk memandang fotoku. “Kenapa? Cantik ya? Nggak usah bilang kalau suka, karena udah pasti kutolak,” balasku sambil merebut kembali dompetku. “Ya, enggak lah,” ucapnya sewot.

“Tapi, itu foto sama siapa, kok mirip Lea sih?” ucap Karin. “Haa? Apanya yang mirip? Beda banget kali. Ini tu temenku waktu SMP. Dia pidah ke Banten karena Dinas orang tuanya pindah ke sana,” jelasku tapi tiba-tiba sebuah suara terngiang dikepalaku. ‘Umm, ini karena Dinas orang tua saya pindah ke sini’. Itu suara Lea saat tadi perkenalan. Kupandang Lea yang duduk membaca buku panduan dari panitia OSPEK. ‘Mungkinkah Lea adalah Alliza, temanku waktu SMP?’ Pikirku mulai mengenang masa lalu.

Dulu kami selalu bersama sejak masuk SMP, bahkan kami selalu duduk sebangku sampai kelas tiga. Kami memiliki banyak kesamaan. Seperti sama-sama penggemar film Detektif. Dia juga begitu baik padaku, dia selalu menolongku. Kami tidak pernah marahan seperti yang sering terjadi pada teman-teman kami yang lain. Pernah terbayang olehku, bagaimana kalau kami marahan sekali-kali. Ah, aku tidak benar-benar menginginkannya. Tapi pada akhirnya bayanganku itu benar-benar terjadi. Bermula saat aku merasa dia menjauhiku. Dia menjadi lebih memilih bersama yang lain daripada bersamaku. Walaupun terkadang kami masih duduk bersama, tapi dia lebih banyak diam daripada bercerita seperti biasanya. Smsku pun jarang dia balas. Kenapa? Entahlah, apa mungkin karena aku tidak pernah sekalipun memberinya sesuatu mengingat dia selalu menolongku. Tapi bagaimanapun, dia tidak pernah bercerita apapun padaku kalau dia punya masalah denganku. Dalam diam, aku merasakan perubahannya. Aku yakin dia marah padaku karena sesuatu yang tak jelas bagiku. Aku sendiri sudah tidak peduli lagi, karena yakin dia tidak akan menjawabku. Semakin lama, kami semakin jauh. Dan kami pun benar-benar berpisah, didukung kepindahannya ke luar kota.

Sekarang, kalau benar Lea adalah Aliza aku tidak tahu harus bagaimana. Dia mungkin sudah mengenaliku karena aku tidak banyak berubah. Aliza Nuristy Fitriani, benarkah adalah Alea Fey? Kutatap lagi Lea yang masih sibuk membolak-balik bukunya. Dia sangat berbeda dengan Aliza yang kukenal. Baik fisik maupun sikapnya aku sama sekali tidak melihat Aliza. Yah, dia bukan Aliza. Aku sangat tahu Aliza. Kalaupun dia berubah, seorang Aliza yang kuper dan tak menarik tidak mungkin berubah menjadi seorang Lea, artis cantik yang bertalenta.

“Hey, masukin dompet kamu. Tuh, kak Fadhil udah masuk,” tegur Karin memecah lamunanku. Kulihat kak Fadhil duduk di kursinya sambil menata kartu-kartu yang ia bawa. “Ini adalah kartu OSPEK kalian. Maaf baru kakak bagikan sekarang karena ada beberapa yang salah dan harus dicetak ulang,” ucap kak Fadhil. “Sekarang nama yang kakak panggil maju ke sini, Danu Prasetyaldi,” panggil kak Fadhil. “Eka Rajasa” “ Rehan Setyabudi” “Tania Dewinta” “Ramona Seza” Hmmm. Kartunya berisi nama, nomor mahasiswa dan jurusan. Mungkin melalui kartu ini aku bisa mengetahui nama aslinya. Bagaimanapun aku harus tahu itu untuk memastikan. “Selfia Wiranata” “Doni Bagaskara” “Karina Riandani” Hmmm, lama sekali. Ada 40 mahasiswa di kelasku, dari semua nama itu aku hanya ingin memfokuskan pendengaranku pada satu dari dua nama yang mungkin ada dikelas ini. “Alya Ferliana” “Farhan Yogi Saputra…. dan terakhir” ‘Alea Fey’ kumohon nama itu sambil memejamkan mata, sungguh aku tidak mau lagi berurusan dengan Aliza. “Al… Alee… Oh… Alliza…. Nuristy…. Fitriani”

“Woww, Mona. Tebakanmu benar tentang nama itu. Ternyata Alea Fey bukan nama aslinya” bisik Karin, aku sama sekali tidak tertarik mendengar bisikannya. Tidak mungkin. Bagaimana bisa dia adalah Aliza. Kulihat perempuan yang kukenal sebagai Alea Fey itu memandangku. Tersenyum melihat keterkejutanku. Mungkinkah dia hanya mengambilkan temannya. Tidak. Ini sudah semuanya. Dia yang terakhir. Alea adalah Alliza. Astaga, kenapa aku tak mengenalinya sama sekali. Aarrrgghh. Aku benar-benar kacau.

Perkuliahan kami sudah dimulai. Aku benar-benar sekelas dengannya. Aku tidak tahu kenapa aku begitu ingin menjauhinya, seperti dulu dia menjauhiku. Aku sangat ingat bagaimana dia dulu sangat tidak ingin bersamaku. Aku tidak ingin teman-teman baruku yang lain tahu aku dulu berteman dengannya. Tapi itu berarti,aku harus tetap sekelas dengannya. Akan sangat mencurigakan jika aku pindah ke kelas yang lain padahal di kelasku ada seorang artis. Mungkin aku harus pindah jurusan. Nggak, nggak. Ini adalah satu-satunya jurusan yang kuinginkan. Hey, aku bisa pindah universitas. Tapi apa alasaku?? Arrrgghh. Bagaimana aku bisa konsentrasi.

Di kelas, Lea ah bukan, Liza juga sangat pintar. Sangat berbeda dengan Liza yang dulu ku kenal. Aku benar-benar mati kutu. Aku tidak bisa melawannya secara komunikatif karena aku tidak ingin terlibat pembicaraan dengannya. Sekarang, aku hanya bisa menjadi mahasiswa pasif dan pendiam yang sama-sekali tidak kurencanakan. Sifat yang ingin kubuang jauh-jauh dan tak ingin kumiliki lagi. Tapi, sekarang aku terpaksa menggunakan itu.

Cara ini, meski aku bisa melakukannya dengan baik tapi ini membuatku tidak bisa tidur tenang. Aku harus belajar siang malam untuk menyetarakan kemampuanku. Mencari referensi kesana kemari, menyogok pamanku untuk menanyakan materi dari dosen-dosenku. Aku tidak perlu melakukan ini kalau aku bisa menonjol di kelas. Tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku tidak ingin terang-terangan melawan Liza.

“Halo paman, gimana?” tanyaku saat paman menelfonku. Aku sudah stand by di perpus sambil membaca Majalah Hello Girls yang ternyata ada di perpustakaan ini. Selain itu, aku harus segera pulang untuk mengerjakan tugas. “Pak Haris, materi minggu ini seri kedua dari buku Geometrik karangan Johan Lavender,” jawabnya. “Oke, terus?” tanyaku lagi, karena kali ini aku membayar dua kali lipat dari biasanya. “Kamu nggak tau paman sibuk ya, kenapa nggak tanya sendiri aja sih?” ucap paman sewot. “Hey, aku udah bayar paman dua kali lipat, kan? Kalau aku nggak bener-bener butuh, aku nggak akan kaya gini. Aku nggak mau tahu paling lambat besok paman harus kasih kabar,” balasku dan langsung menutup telefon. Nggak sopan ya? Nggak papa, dia bukan dosen tua yang harus selalu diberi salam saat bertemu. Dia, hanya 8 tahun lebih tua dariku. Sekarang tak apalah satu buku dulu, lagi pula malam ini aku harus mengerjakan banyak tugas. Aku kuketik Geometrik Johan Lavender menggunakan computer pencari. Masih ada satu copy, di rak kolom 12. Oke, meluncur.

“Ramona Seza,” kudengar seseorang memanggilku dari dekat rak buku yang ku‘ubek-ubek’. Cukup mengagetkanku karena sudah setengah jam aku mencari nggak ada orang lain yang kesini, dan sekarang tiba-tiba muncul seseorang dari balik rak buku di belakangku. Orang yang kulihat benar-benar membuatku kesal tidak hanya karena sudah mengagetkanku tapi juga karena dialah yang membuatku ‘terlalu’ sibuk. Siapa lagi kalau bukan, Liza. Dia tampak membolak-balik buku yang dibawanya.

“Ngapain kamu di sini?” ucapku cuek dan kembali mencari buku yang tadi disebutkan pamanku. “Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini,” ucapnya santai tanpa memandangku. Kuputuskan aku juga tidak akan memandangnya. “Tentu saja karena aku datang kesini setiap hari,” ucapku ketus. “Kamu tahu maksudku bukan perpustakaan,” aku mendengar nada tawa dalam kalimatnya. Sial, setelah hampir satu bulan bertemu di kelas dia baru menyapaku sekarang. “Hhh, kenapa? Kamu baru mengenaliku sekarang?” ledekku. “Nggak, aku langsung mengenalimu saat pertama kali melihatmu. Kamu nggak banyak berubah,” ucapnya masih dengan santai. Kali ini aku nggak tahan untuk tidak melihatnya walaupun, dia masih saja sibuk memandang bukunya. Kenapa dia ini, mau mengejekku? karena aku tidak langsung mengenalinya sebab dia sangat berubah? Batinku kesal. Meski begitu aku tidak membalas kata-katanya. Aku kembali sibuk mencari buku yang kuharap segera kutemukan. Aku yakin masih ada satu copy.

“Kamu inget kata Conan dulu?” tanyanya  tiba-tiba lari ke masa lalu. Kami dulu pecandu tentang semua hal yang menyangkut Detektif, termasuk Detektif Conan yang rutin kami tonton. Haruskah kujawab? Hhhh, aku benci mengingat masa lalu terutama yang berhubungan dengan dia. “Sekali kalian memutuskan hubungan, kalian mungkin nggak akan pernah saling bertemu lagi,” katanya mengarahkan ingatanku. Ya aku mengingat itu, aku bahkan masih memiliki filmnya. Apa dia bermaksud minta maaf karena sudah memutuskan hubungan denganku. “Apa kamu ingat dialog sebelumnya? Aku rasa telah melupakannya. Tapi bagaimanapun, aku terus memikirkan dialog yang kukatakan itu sejak bertemu denganmu. Tidakkah dialog itu salah?” tambahnya. Aku mulai mengerti arah pembicaraannya, dia tidak ingin minta maaf. “Kamu yang salah, dialog itu benar,” tukasku. “Oh ya? Bukankah kita bertemu lagi?” balasnya. Ada rasa ganjil saat dia mengatakan ‘kita’ setelah saling diam selama tiga tahun. “Benarkah? Benarkah aku bertemu dengan Alliza? Kurasa kau adalah Alea Fey…. Noisy, kan?” balasku. Dia tampak memandangku dengan kesal. Yess, aku mengacaukannya. Aku mulai melangkah ke rak berikutnya karena tak kutemukan buku yang kucari, ada empat rak di setiap kolom. Hhhh, kalau tak kutemukan dalam 15 menit aku terpaksa pulang tanpa buku itu. “Benar juga, aku adalah Alea Fey bukan Aliza. Tidakkah kamu bertanya-tanya bagaimana aku bisa menjadi Alea,” balasnya lagi. Ya ingin kukatakan aku memang penasaran tapi, aku nggak punya waktu untuk menyelidiki hal seperti itu. Up to you, beibeh!

“Jawabannya ada dalam dialog sebelum yang aku katakan tadi,” ucapnya. Aku memandangnya, dia mempermainkanku. “Kalau kamu bilang gitu, bukannya kamu juga mengingat dialog yang kamu maksud,” ujarku. “Hhhh, tiga tahun nggak ketemu ternyata kamu sudah berguru pada Conan? Pintar sekali,” katanya, gimanapun itu bukan pujian. Aku diam, membiarkan dia berpikir apa yang aku pikirkan. Sementara itu, aku berpindah ke rak yang lain. Kuputuskan ini rak terakhir untuk hari ini, kalau nggak ketemu ya sudah.

“Katakan, ini permintaan pertamaku,” perintahnya. Hisshh, dia bawa-bawa masa lalu lagi. Dia memang tidak pernah meminta apapun dariku, aku yang selalu memintanya. Aku terpaksa menurutinya “Satu kata saja yang keluar dari mulut kalian, kalian nggak akan bisa menariknya lagi. Kata-kata itu seperti pedang. Kalau kalian salah menggunakannya, mereka akan menjadi senjata yang jahat. Karenanya, persahabatan bisa rusak untuk selamanya,” Hey, dialog ini mengarahkanku ke sisi yang berbeda dari semua yang terjadi antara aku dan dia. “Kenapa? Kenapa kamu ingin aku mengatakan ini?” kataku mulai merasakan kesalahan tentang apa yang aku pikirkan selama ini. Mungkinkah aku sudah mengatakan sesuatu yang salah? “Karena aku ingin kamu mengatakan dialog yang kamu katakan, dan aku ingin mengatakan dialog yang aku lakukan. Aku ingin kamu tahu, kenapa aku melakukan dialog yang aku lakukan?” jelasnya, aku masih tidak tahu apa yang dimaksudnya. “Aku nggak ngerti, memangnya apa yang kukatakan?” tanyaku, sebuah pertanyaan yang memaksaku untuk tidak berpaling darinya walaupun dia mulai berjalan menjauh, dan kemudian berkata “Aku….. cewek kuper yang nggak menarik?

Jedeeerrrrr. Apa-apan ini. Darimana dia tahu? Kalau gini udah jelas aku yang salah. Hhh, kenapa jadi salahku?? Aku nggak pernah bilang itu ke siapapun, aku hanya memikirkannya. Hey, apa mungkin? Aku keceplosan? Hhh, aku mati kutu. Aku hanya bisa memandangnya , tanpa berani untuk berpaling dan parahnya aku juga tidak berani menatap matanya lagi. Walaupun sebenarnya, dia juga tidak memandangku.

“Aku sudah lupa siapa yang mengatakannya. Karena aku langsung terkena amnesia, saat aku mendengar kata itu. Entah mengapa aku merasa menjadi orang yang tak berguna, setelah semua yang aku lakukan,” ucapnya. Sekarang dia begitu pandai menggunakan kata kiasan untuk percakapan, dulu dia bahkan sering menggigit lidahnya sendiri hanya untuk kata-kata biasa. Dasar!

“Jadi, maksudmu. Aku yang salah, huh?” ucapku menyimpulkan. “Yaa, kalau kamu merasa bersalah mau gimana lagi,” ucapnya membuatku kesal. “LALU KENAPA KAMU NGGAK BILANG DARI DULU?!!” bentakku, aku nggak bisa menahannya lagi. Beruntung perpustakaan hari ini sepi dan posisi kami cukup jauh dari petugas. Aku nggak terima kalau semua ini kesalahanku. Tapi pada kenyataannya memang kesalahanku. Bermula dari kata-kataku yang tajam, kata-kata yang tidak pernah aku bermaksud mengungkapkannya. Tapi tanpa sengaja kukatakan karena sifatku yang sering keceplosan. Dia yang dulu begitu pendiam, menyimpan rasa sakitnya sendirian. Memilih untuk melakukan tindakan tanpa memberiku alasan kenapa.

Dia berjalan mendekatiku, sudah tak kulihat keangkuhannya. “Maaf. Kau tahu? Aku dulu sangat lemah. Hal kecil pun bisa membuatku amnesia, kamu ngerti maksudku kan?” ucapnya, aku tidak meng‘iya’kan juga tidak menidakkan. Tapi aku tau maksudnya. Dia menggunakan sebuah kata untuk mengungkapkan arti lain yang dia fikirkan dari kata itu. Kita tahu kalau amnesia artinnya adalah hilang ingatan. Tapi kalau Liza yang mengatakannya itu bisa berarti ‘menghilangkan’ ingatan atau melupakan apa yang ingin dilupakan. Aneh? Ya, dia senang melakukannya. Karena itu seperti teka-teki untuk menyampaikan rahasia kepada orang yang ia percaya. Dan dia sering begitu denganku, tak heran kalau dia sakit hati mendengar perkataan buruk dari orang yang dia percaya.

Dia di sini, membuatku untuk mengakui kesalahanku. Setelah kuakui, dia pun mengakui kesalahannya. Bukannya ini terkesan kalau aku tidak mau kalah? Dasar! Tapi ‘kuakui’ ini cara yang sangat baik.
Sudah lewat 3 menit dari waktu yang kutentukan. Kuputuskan untuk pulang, aku bisa mencarinya lagi besok sekalian menunggu kabar dari paman. “Aku mengerti. Sudah sore, aku akan pulang,” ucap ku sambil berjalan melaluinya menuju pintu keluar. “Hey!” panggilnya membuatku menatapnya lagi aku belum begitu jauh darinya. Kulihat dia melemparkan bukunya kearahku. Sial, ini buku yang kucari. “Aku yang meminta pamanmu, untuk mengatakan kalau itu buku yang harus kamu cari,” jelasnya. Ucapannya itu membuatku curiga kalau sebenarnya dia sengaja masuk universitas dengan jurusan dan kelas yang sama denganku, hanya untuk bertemu denganku. PD. “Sejak kapan kamu dekat dengan paman?” tanyaku agak kesal, yang benar saja aku sudah mencarinya selama satu jam. “Dia adalah teman pamanku bermain golf,” jawabnya sambil berjalan melewatiku menuju pintu. Mungkin ini yang dinamakan Nepotisme.

“O iya, ada surat di dalam sampul belakang. Itu buat kamu,” jawabnya  sambil menunjuk buku yang dia lemparkan tadi. Surat? Mungkinkah surat minta maaf? Aku membuka sampul yang dimaksudnya. Ada amplop yang diselipkan disana. Cukup, ah bukan Cukup tapi Sangat terkejut saat melihat ternyata pengirimnya bukan Liza melainkan Floo Entertainment. Di sana dijelaskan kalau Noisy ingin melengkapi membernya menjadi 5 orang. Dan orang yang mendapat tawaran adalah….. aku? Aku melihat Liza tersenyum manis memandangku, senyum Liza yang begitu lama kulihat. Mataku pun mulai berkaca-kaca, bukankah ini mimpiku? Kenapa bisa tiba-tiba ada di tanganku?

“Kenapa…tiba-tiba aku bisa dapat tawaran?”  tanyaku, kulihat Liza masih tersenyum. Senyum yang aku tak percaya bisa melihatnya lagi. “Karena aku menginginkannya, karena itu adalah ……permintaan keduaku,”ucapnya sungguh membuatku terharu. Ahh, aku nggak tahan lagi. Air mataku benar-benar menetes, mengalir, menganak sungai di pipi. Dia benar-benar keterlaluan, sudah membuatku begini mati gaya, membuatku tidak bisa berkata-kata.

Ah tidak ada satu hal yang harus ku katakan.  “Liza, kamu benar tentang satu hal,” ucapku setelah bisa mengendalikan air mataku. “Tentang apa?” tanyanya. “Sekali kalian memutuskan hubungan, kalian mungkin nggak akan pernah saling bertemu lagi, adalah salah. Aku benar-benar bertemu dengan Alliza,” ucapku, dia tersenyum lagi. “Tidak juga, sebenarnya dialog itu masih benar,” jawabnya menolak arus yang kubuat, dahiku mengerut. “Bukankah ada kata ‘mungkin’ dalam dialog itu?” ucapnya membuatku kesal lagi. “Bukannya cukup dengan berkata ‘ya’ saja?” ucapku, setidaknya kan impas kalau aku juga bisa membuatnya terharu. Dasar! Tapi aku senang bisa berteman lagi dengan Alliza.