“Perkenalkan teman-teman, nama saya Ramona
Seza. Biasa dipanggil Mona. Saya berasal dari Jawa Tengah. Saya sangat senang
bisa berkuliah di Jakarta seperti ini, saya ingin menjadi mahasiswa yang aktif
dan berprestasi,” ucapku saat perkenalan di hari pertama OSPEK. Ya, sekarang
aku adalah seorang mahasiswa. Sungguh bangga aku bisa melanjutkan ke Jakarta.
Aku tidak pernah menyangka bisa lolos ujian tulis SNMPTN mengingat aku tidak
memiliki banyak modal dalam hal kecerdasan. Bisa dibilang ini adalah
keberuntunganku. Kebetulan pamanku adalah dosen di universitas ini, karenanya
aku sering mendengar beberapa temanku berkata kalau aku telah menyogok. Enak
saja! Aku tidak suka dibilang begitu.
“Oke, selanjutnya,” ucap Fadli Fatin kakak
senior yang ada di ruangan kami. Karina teman baru yang duduk di dekat
bangkuku, berdiri dan memperkenalkan dirinya. “Selamat pagi semuanya, nama saya
Karina Riandani. Biasa dipanggil Karin atau Rani. Saya berasal dari Pekanbaru.
Saya berjanji akan belajar sungguh-sungguh karena sudah diterima di sini,” ucap
Karin. “Bagus, lanjut,” ucap kak Fadli monoton. Lalu, gadis yang duduk
disebelah Karin berdiri. Dia tinggi berambut panjang, berkacamata dan sangat
cantik, dari penampilannya aku yakin dia bukan orang sembarangan. Aku belum
pernah bertemu dengannya sebelum ini, tapi wajahnya cukup familiar. Mungkinkah dia
artis ibukota yang baru? Jujur saja aku tidak terlalu memperhatikan televisi maupun
majalah sejak kegencaran Ujian Nasional.
“Hey, Mona. Apa kamu mengenal dia? Aku merasa
pernah melihatnya di suatu tempat,” bisik Karin padaku. “Entahlah,” jawabku
karena memang tidak yakin. Bahkan Karin yang berasal dari Kalimantan saja
merasa familiar. Benarkah dia artis? Aku jadi penasaran, mungkin aku akan tanya
padanya nanti.
“Perkenalkan, nama saya..,” perkenalannya
terpotong oleh ucapan kak Fadli yang tiba-tiba. “Hey, bukankah kamu Alea Fey?
Anggota girlband baru bernama Noisy?” “Aaaa iya, aku melihatmu di majalah Hello
Girls minggu lalu. Kamu anggota termuda kan?” tambah Karin bersemangat. “Noisy,
dari Floo Entertainment?” tambah yang lain. “Bukankah itu termasuk perusahaan
musik terbesar di Indonesia?” tambah yang lain lagi. Kelas jadi tampak gaduh
membeicarakan Alea dan Noisy.
Haaa, tebakanku benar. Mungkinkah aku berbakat
jadi detektif? Kalau benar, aku akan pergi ke Jepang dan membantu Shinichi
Kudou menangkap penjahat yang membuatnya menjadi Conan. Eeitt,,,maaf nggak
sengaja.
Tapi aku tidak pernah berpikir akan begini.
Siapa sangka bisa sekelas dengan artis ibukota. Bermimpi saja aku tidak berani.
Dan ini kenyataan, ufufufuuu aku senang sekali. Kurasa aku harus mendekatinya
agar aku bisa jadi temannya. Siapa tahu aku bisa ketularan jadi artis. Aku bisa
menari dan menyanyi dengan cukup baik, aku juga bisa membuat lagu. Sayangnya
aku baru bisa menjuarai sampai tingkat Provinsi. Hmmmm.
“Aaa, iya benar. Aku tidak menyangka sudah
banyak yang tahu, kami akan debut pertama kali minggu depan. Kalian tolong
lihat ya,” jawabnya sambil promo merendah dan sedikit tersipu. Wajahnya begitu
cantik saat terenyum. “Kenapa memilih kuliah di sini?” tanya Kak Fadli seperti wartawan. “Umm, ini karena Dinas
orang tua saya pindah ke sini,” jawab Alea masih sambil senyum. “Jadi kalau
orang tua kamu pindah dinas lagi kamu akan pindah universitas?” tanya kak Fadli
lagi, Alea menggeleng. “Untuk kali ini, meski orang tua saya pindah dinas lagi,
saya akan tetap di sini sampai saya lulus,” jawab Alea tetap dengan senyumnya. Aaah,
sepertinya aku akan menjadi fans-nya. Tiba-tiba saja aku begitu mengaguminya.
“Kak Fadli suka girlband ya? Kok bisa langsung
kenal sama Alea,” tanyaku penasaran. Tapi sepertinya pertanyaanku membuatnya
mati kutu. Yaah, kalau Noisy baru akan
debut minggu depan, berarti belum tayang di tv. Satu-satunya media yang
menyiarkannya adalah majalah Hello Girls, majalah remaja untuk cewek yang
kudengar akhir-akhir ini sering menganggkat tema tentang girlband. Jadi, kak
Fadli… hohoho. “Aaah, i-itu. Adik perempuanku penggemar girlband, jadi aku
tahu,” ucapnya mencurigakan. Benarkah? Naluri detektifku muncul lagi, walaupun
masih amatiran.
“Nah, sekarang waktunya istirahat. Gunakan
untuk sholat, dan makan bekal kalian, kami beri waktu setengah jam dari
sekarang,” ucap kak Fadli setelah semua mahasiswa baru sudah memperkenalkan
diri, ia pun keluar ruangan. Aku buru-buru mendekati Alea. “Alea, bolehkah aku
minta tanda-tanganmu? Aku sangat senang bisa satu kelas denganmu,” ucapku saat
ia mengeluarkan mukenahnya. Ia tampak terkejut, saat aku didepannya. Mungkinkah
aku bicara terlalu keras? Maaflah kalau begitu. “Ahh, aku juga Alea. Sepertinya
aku akan menjadi fans-mu,” ucap Karin ikut-ikutan. Akibatnya, satu kelas
merubungi Alea untuk minta tanda-tangan sepertiku. Hmmmm.
Aku buru-buru mengambil mukenahku, karena sudah
lewat seperempat jam lebih sejak kerumunan itu. Aku nggak mau kekurangan waktu
untuk makan. Aku yakin tempat wudhunya antri. Begitu kudapati mukenahku
menyelip diantara perlengkapan OSPEK yang nggak sedikit, aku segera berlari
menuju mushola bersama Karin. Alea tiba di masjid saat aku selesai wudhu. Aku sengaja duduk
melama-lamakan memakai mukenahku agar bisa sholat bareng Alea. Kami pun selesai
hampir bersamaan, syukurlah aku bisa kembali ke kelas dengannya. Dan tentu saja
dengan Karin dan yang lain.
“Alea, apakah di Noisy kamu juga di panggil
begitu?” tanya Karin saat kami hamper tiba di kelas, teman baruku ini tampaknya
lebih aktif. Ini sudah pertanyaannya yang ketiga. “Tidak, mereka biasa
memanggilku Lea,” jawab Alea ramah. “Aaaa, Lea? Kurasa nama itu lebih mudah
diucapkan,” komentar Karin. “Benarkah?” ucap Alea, eh bukan, ucap Lea. Karin
mengangguk senang karena komentarnya disambut ramah. Aaargh aku iri, aku juga
ingin tanya sesuatu. Tapi apa ya? Ummm “Lea, apakah Alea Fey itu nama asli?”
tanyaku dengan asal saat kami hampir memasuki kelas. Uuuggh, ngomong apa aku
ini. Harusnya aku tidak menanyakan begitu hanya karena kebanyakan artis nggak
pake nama asli. “Ih, Mona. Nggak sopan tau?” tegur Karin. “Maaf,” sesalku. Tapi
sepertinya Lea mau menjawab, dasar artis ramah, batinku senang walaupun sedikit
nggak enak hati. “Nggak papa, itu nama…,” jawabannya terpotong karena seruan
Karin yang tiba-tiba. Kenapa siiih??
“Hei, ini dompet siapa kok ada di mejaku?”
tanya Karin saat sampai di mejanya. “Lho, bukan punya kamu. Aku tadi yang taruh
situ, abis jatuhnya di deket mejamu,” ucap Feri yang duduk dibangku belakangnya.
Karin menggeleng mem‘bukan’kan. “Punyaku itu,” ucapku berusaha merebut dompet
itu tapi nggak kena karena Karin menghindar. “Masak sih? Buktiin dong, ada apa
aja disini,” ucapanya membuatku geram, cari gara-gara ni anak. Yaa, walaupun
aku tahu kalau dia hanya bercanda tapi gimana lagi. “Ada ktp, kartu pelajar SMP
dan SMA, SIM motor,” jawabnya sekenaku. “Terus?” tanyanya sambil duduk santai
di kursinya. “Duit,” jawabku mulai kesal. “Jumlahnya?” tanyanya lagi membuatku
semakin kesal. “Mana aku inget, duitku keluar masuk ke dompet itu kapan aja,”
jawabku sewot. “Hmmm, aku jadi nggak yakin ini punyamu,” jawabnya sambil
nyengir. “Dasar! Kamu nggak liat ada fotoku di sana?” ujarku nggak sabar. “Owh,
iya ya,” ucapnya membuatku kesal. Tapi ia langsung terdiam dan tampak khusyuk
memandang fotoku. “Kenapa? Cantik ya? Nggak usah bilang kalau suka, karena udah
pasti kutolak,” balasku sambil merebut kembali dompetku. “Ya, enggak lah,” ucapnya
sewot.
“Tapi, itu foto sama siapa, kok mirip Lea sih?”
ucap Karin. “Haa? Apanya yang mirip? Beda banget kali. Ini tu temenku waktu SMP.
Dia pidah ke Banten karena Dinas orang tuanya pindah ke sana,” jelasku tapi
tiba-tiba sebuah suara terngiang dikepalaku. ‘Umm, ini karena Dinas orang tua saya pindah ke sini’. Itu suara Lea
saat tadi perkenalan. Kupandang Lea yang duduk membaca buku panduan dari
panitia OSPEK. ‘Mungkinkah Lea adalah Alliza, temanku waktu SMP?’ Pikirku mulai
mengenang masa lalu.
Dulu kami selalu bersama sejak masuk SMP,
bahkan kami selalu duduk sebangku sampai kelas tiga. Kami memiliki banyak
kesamaan. Seperti sama-sama penggemar film Detektif. Dia juga begitu baik
padaku, dia selalu menolongku. Kami tidak pernah marahan seperti yang sering
terjadi pada teman-teman kami yang lain. Pernah terbayang olehku, bagaimana
kalau kami marahan sekali-kali. Ah, aku tidak benar-benar menginginkannya. Tapi
pada akhirnya bayanganku itu benar-benar terjadi. Bermula saat aku merasa dia
menjauhiku. Dia menjadi lebih memilih bersama yang lain daripada bersamaku.
Walaupun terkadang kami masih duduk bersama, tapi dia lebih banyak diam
daripada bercerita seperti biasanya. Smsku pun jarang dia balas. Kenapa?
Entahlah, apa mungkin karena aku tidak pernah sekalipun memberinya sesuatu
mengingat dia selalu menolongku. Tapi bagaimanapun, dia tidak pernah bercerita
apapun padaku kalau dia punya masalah denganku. Dalam diam, aku merasakan
perubahannya. Aku yakin dia marah padaku karena sesuatu yang tak jelas bagiku.
Aku sendiri sudah tidak peduli lagi, karena yakin dia tidak akan menjawabku.
Semakin lama, kami semakin jauh. Dan kami pun benar-benar berpisah, didukung
kepindahannya ke luar kota.
Sekarang, kalau benar Lea adalah Aliza aku
tidak tahu harus bagaimana. Dia mungkin sudah mengenaliku karena aku tidak
banyak berubah. Aliza Nuristy Fitriani, benarkah adalah Alea Fey? Kutatap lagi
Lea yang masih sibuk membolak-balik bukunya. Dia sangat berbeda dengan Aliza
yang kukenal. Baik fisik maupun sikapnya aku sama sekali tidak melihat Aliza.
Yah, dia bukan Aliza. Aku sangat tahu Aliza. Kalaupun dia berubah, seorang
Aliza yang kuper dan tak menarik
tidak mungkin berubah menjadi seorang Lea, artis cantik yang bertalenta.
“Hey, masukin dompet kamu. Tuh, kak Fadhil udah
masuk,” tegur Karin memecah lamunanku. Kulihat kak Fadhil duduk di kursinya
sambil menata kartu-kartu yang ia bawa. “Ini adalah kartu OSPEK kalian. Maaf
baru kakak bagikan sekarang karena ada beberapa yang salah dan harus dicetak
ulang,” ucap kak Fadhil. “Sekarang nama yang kakak panggil maju ke sini, Danu
Prasetyaldi,” panggil kak Fadhil. “Eka Rajasa” “ Rehan Setyabudi” “Tania
Dewinta” “Ramona Seza” Hmmm. Kartunya berisi nama, nomor mahasiswa dan jurusan.
Mungkin melalui kartu ini aku bisa mengetahui nama aslinya. Bagaimanapun aku
harus tahu itu untuk memastikan. “Selfia Wiranata” “Doni Bagaskara” “Karina
Riandani” Hmmm, lama sekali. Ada 40 mahasiswa di kelasku, dari semua nama itu
aku hanya ingin memfokuskan pendengaranku pada satu dari dua nama yang mungkin
ada dikelas ini. “Alya Ferliana” “Farhan Yogi Saputra…. dan terakhir” ‘Alea
Fey’ kumohon nama itu sambil memejamkan mata, sungguh aku tidak mau lagi
berurusan dengan Aliza. “Al… Alee… Oh… Alliza…. Nuristy…. Fitriani”
“Woww, Mona. Tebakanmu benar tentang nama itu.
Ternyata Alea Fey bukan nama aslinya” bisik Karin, aku sama sekali tidak
tertarik mendengar bisikannya. Tidak mungkin. Bagaimana bisa dia adalah Aliza.
Kulihat perempuan yang kukenal sebagai Alea Fey itu memandangku. Tersenyum
melihat keterkejutanku. Mungkinkah dia hanya mengambilkan temannya. Tidak. Ini
sudah semuanya. Dia yang terakhir. Alea adalah Alliza. Astaga, kenapa aku tak
mengenalinya sama sekali. Aarrrgghh. Aku benar-benar kacau.
Perkuliahan kami sudah dimulai. Aku benar-benar
sekelas dengannya. Aku tidak tahu kenapa aku begitu ingin menjauhinya, seperti
dulu dia menjauhiku. Aku sangat ingat bagaimana dia dulu sangat tidak ingin
bersamaku. Aku tidak ingin teman-teman baruku yang lain tahu aku dulu berteman
dengannya. Tapi itu berarti,aku harus tetap sekelas dengannya. Akan sangat
mencurigakan jika aku pindah ke kelas yang lain padahal di kelasku ada seorang
artis. Mungkin aku harus pindah jurusan. Nggak, nggak. Ini adalah satu-satunya
jurusan yang kuinginkan. Hey, aku bisa pindah universitas. Tapi apa alasaku??
Arrrgghh. Bagaimana aku bisa konsentrasi.
Di kelas, Lea ah bukan, Liza juga sangat
pintar. Sangat berbeda dengan Liza yang dulu ku kenal. Aku benar-benar mati
kutu. Aku tidak bisa melawannya secara komunikatif karena aku tidak ingin
terlibat pembicaraan dengannya. Sekarang, aku hanya bisa menjadi mahasiswa
pasif dan pendiam yang sama-sekali tidak kurencanakan. Sifat yang ingin kubuang
jauh-jauh dan tak ingin kumiliki lagi. Tapi, sekarang aku terpaksa menggunakan
itu.
Cara ini, meski aku bisa melakukannya dengan
baik tapi ini membuatku tidak bisa tidur tenang. Aku harus belajar siang malam
untuk menyetarakan kemampuanku. Mencari referensi kesana kemari, menyogok
pamanku untuk menanyakan materi dari dosen-dosenku. Aku tidak perlu melakukan
ini kalau aku bisa menonjol di kelas. Tapi aku tidak bisa melakukannya karena
aku tidak ingin terang-terangan melawan Liza.
“Halo paman, gimana?” tanyaku saat paman
menelfonku. Aku sudah stand by di perpus sambil membaca Majalah Hello Girls
yang ternyata ada di perpustakaan ini. Selain itu, aku harus segera pulang
untuk mengerjakan tugas. “Pak Haris, materi minggu ini seri kedua dari buku
Geometrik karangan Johan Lavender,” jawabnya. “Oke, terus?” tanyaku lagi,
karena kali ini aku membayar dua kali lipat dari biasanya. “Kamu nggak tau
paman sibuk ya, kenapa nggak tanya sendiri aja sih?” ucap paman sewot. “Hey,
aku udah bayar paman dua kali lipat, kan? Kalau aku nggak bener-bener butuh,
aku nggak akan kaya gini. Aku nggak mau tahu paling lambat besok paman harus
kasih kabar,” balasku dan langsung menutup telefon. Nggak sopan ya? Nggak papa,
dia bukan dosen tua yang harus selalu diberi salam saat bertemu. Dia, hanya 8
tahun lebih tua dariku. Sekarang tak apalah satu buku dulu, lagi pula malam ini
aku harus mengerjakan banyak tugas. Aku kuketik Geometrik Johan Lavender menggunakan
computer pencari. Masih ada satu copy, di rak kolom 12. Oke, meluncur.
“Ramona Seza,” kudengar seseorang memanggilku
dari dekat rak buku yang ku‘ubek-ubek’. Cukup mengagetkanku karena sudah setengah
jam aku mencari nggak ada orang lain yang kesini, dan sekarang tiba-tiba muncul
seseorang dari balik rak buku di belakangku. Orang yang kulihat benar-benar
membuatku kesal tidak hanya karena sudah mengagetkanku tapi juga karena dialah yang
membuatku ‘terlalu’ sibuk. Siapa lagi kalau bukan, Liza. Dia tampak
membolak-balik buku yang dibawanya.
“Ngapain kamu di sini?” ucapku cuek dan kembali
mencari buku yang tadi disebutkan pamanku. “Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu
di sini,” ucapnya santai tanpa memandangku. Kuputuskan aku juga tidak akan
memandangnya. “Tentu saja karena aku datang kesini setiap hari,” ucapku ketus.
“Kamu tahu maksudku bukan perpustakaan,” aku mendengar nada tawa dalam kalimatnya.
Sial, setelah hampir satu bulan bertemu di kelas dia baru menyapaku sekarang.
“Hhh, kenapa? Kamu baru mengenaliku sekarang?” ledekku. “Nggak, aku langsung
mengenalimu saat pertama kali melihatmu. Kamu nggak banyak berubah,” ucapnya
masih dengan santai. Kali ini aku nggak tahan untuk tidak melihatnya walaupun,
dia masih saja sibuk memandang bukunya. Kenapa dia ini, mau mengejekku? karena
aku tidak langsung mengenalinya sebab dia sangat berubah? Batinku kesal. Meski
begitu aku tidak membalas kata-katanya. Aku kembali sibuk mencari buku yang
kuharap segera kutemukan. Aku yakin masih ada satu copy.
“Kamu inget kata Conan dulu?” tanyanya tiba-tiba lari ke masa lalu. Kami dulu
pecandu tentang semua hal yang menyangkut Detektif, termasuk Detektif Conan yang
rutin kami tonton. Haruskah kujawab? Hhhh, aku benci mengingat masa lalu
terutama yang berhubungan dengan dia. “Sekali
kalian memutuskan hubungan, kalian mungkin nggak akan pernah saling bertemu
lagi,” katanya mengarahkan ingatanku. Ya aku mengingat itu, aku bahkan
masih memiliki filmnya. Apa dia bermaksud minta maaf karena sudah memutuskan
hubungan denganku. “Apa kamu ingat dialog sebelumnya? Aku rasa telah
melupakannya. Tapi bagaimanapun, aku terus memikirkan dialog yang kukatakan itu
sejak bertemu denganmu. Tidakkah dialog itu salah?” tambahnya. Aku mulai
mengerti arah pembicaraannya, dia tidak ingin minta maaf. “Kamu yang salah,
dialog itu benar,” tukasku. “Oh ya? Bukankah kita bertemu lagi?” balasnya. Ada
rasa ganjil saat dia mengatakan ‘kita’ setelah saling diam selama tiga tahun.
“Benarkah? Benarkah aku bertemu dengan Alliza? Kurasa kau adalah Alea Fey….
Noisy, kan?” balasku. Dia tampak memandangku dengan kesal. Yess, aku
mengacaukannya. Aku mulai melangkah ke rak berikutnya karena tak kutemukan buku
yang kucari, ada empat rak di setiap kolom. Hhhh, kalau tak kutemukan dalam 15
menit aku terpaksa pulang tanpa buku itu. “Benar juga, aku adalah Alea Fey
bukan Aliza. Tidakkah kamu bertanya-tanya bagaimana aku bisa menjadi Alea,”
balasnya lagi. Ya ingin kukatakan aku memang penasaran tapi, aku nggak punya
waktu untuk menyelidiki hal seperti itu. Up to you, beibeh!
“Jawabannya ada dalam dialog sebelum yang aku
katakan tadi,” ucapnya. Aku memandangnya, dia mempermainkanku. “Kalau kamu
bilang gitu, bukannya kamu juga mengingat dialog yang kamu maksud,” ujarku. “Hhhh,
tiga tahun nggak ketemu ternyata kamu sudah berguru pada Conan? Pintar sekali,”
katanya, gimanapun itu bukan pujian. Aku diam, membiarkan dia berpikir apa yang
aku pikirkan. Sementara itu, aku berpindah ke rak yang lain. Kuputuskan ini rak
terakhir untuk hari ini, kalau nggak ketemu ya sudah.
“Katakan, ini permintaan pertamaku,”
perintahnya. Hisshh, dia bawa-bawa masa lalu lagi. Dia memang tidak pernah
meminta apapun dariku, aku yang selalu memintanya. Aku terpaksa menurutinya “Satu kata saja yang keluar dari mulut
kalian, kalian nggak akan bisa menariknya lagi. Kata-kata itu seperti pedang.
Kalau kalian salah menggunakannya, mereka akan menjadi senjata yang jahat.
Karenanya, persahabatan bisa rusak untuk selamanya,” Hey, dialog ini
mengarahkanku ke sisi yang berbeda dari semua yang terjadi antara aku dan dia.
“Kenapa? Kenapa kamu ingin aku mengatakan ini?” kataku mulai merasakan kesalahan
tentang apa yang aku pikirkan selama ini. Mungkinkah aku sudah mengatakan sesuatu
yang salah? “Karena aku ingin kamu mengatakan dialog yang kamu katakan, dan aku
ingin mengatakan dialog yang aku lakukan. Aku ingin kamu tahu, kenapa aku
melakukan dialog yang aku lakukan?” jelasnya, aku masih tidak tahu apa yang
dimaksudnya. “Aku nggak ngerti, memangnya apa yang kukatakan?” tanyaku, sebuah
pertanyaan yang memaksaku untuk tidak berpaling darinya walaupun dia mulai
berjalan menjauh, dan kemudian berkata “Aku….. cewek kuper yang nggak menarik?”
Jedeeerrrrr. Apa-apan ini. Darimana dia tahu? Kalau
gini udah jelas aku yang salah. Hhh, kenapa jadi salahku?? Aku nggak pernah
bilang itu ke siapapun, aku hanya memikirkannya. Hey, apa mungkin? Aku
keceplosan? Hhh, aku mati kutu. Aku hanya bisa memandangnya , tanpa berani
untuk berpaling dan parahnya aku juga tidak berani menatap matanya lagi.
Walaupun sebenarnya, dia juga tidak memandangku.
“Aku sudah lupa siapa yang mengatakannya.
Karena aku langsung terkena amnesia, saat aku mendengar kata itu. Entah mengapa
aku merasa menjadi orang yang tak berguna, setelah semua yang aku lakukan,”
ucapnya. Sekarang dia begitu pandai menggunakan kata kiasan untuk percakapan,
dulu dia bahkan sering menggigit lidahnya sendiri hanya untuk kata-kata biasa.
Dasar!
“Jadi, maksudmu. Aku yang salah, huh?” ucapku
menyimpulkan. “Yaa, kalau kamu merasa bersalah mau gimana lagi,” ucapnya
membuatku kesal. “LALU KENAPA KAMU NGGAK BILANG DARI DULU?!!” bentakku, aku
nggak bisa menahannya lagi. Beruntung perpustakaan hari ini sepi dan posisi
kami cukup jauh dari petugas. Aku nggak terima kalau semua ini kesalahanku.
Tapi pada kenyataannya memang kesalahanku. Bermula dari kata-kataku yang tajam,
kata-kata yang tidak pernah aku bermaksud mengungkapkannya. Tapi tanpa sengaja
kukatakan karena sifatku yang sering keceplosan. Dia yang dulu begitu pendiam,
menyimpan rasa sakitnya sendirian. Memilih untuk melakukan tindakan tanpa
memberiku alasan kenapa.
Dia berjalan mendekatiku, sudah tak kulihat keangkuhannya.
“Maaf. Kau tahu? Aku dulu sangat lemah. Hal kecil pun bisa membuatku amnesia,
kamu ngerti maksudku kan?” ucapnya, aku tidak meng‘iya’kan juga tidak
menidakkan. Tapi aku tau maksudnya. Dia menggunakan sebuah kata untuk
mengungkapkan arti lain yang dia fikirkan dari kata itu. Kita tahu kalau
amnesia artinnya adalah hilang ingatan. Tapi kalau Liza yang mengatakannya itu
bisa berarti ‘menghilangkan’ ingatan atau melupakan apa yang ingin dilupakan.
Aneh? Ya, dia senang melakukannya. Karena itu seperti teka-teki untuk
menyampaikan rahasia kepada orang yang ia percaya. Dan dia sering begitu
denganku, tak heran kalau dia sakit hati mendengar perkataan buruk dari orang
yang dia percaya.
Dia di sini, membuatku untuk mengakui
kesalahanku. Setelah kuakui, dia pun mengakui kesalahannya. Bukannya ini
terkesan kalau aku tidak mau kalah? Dasar! Tapi ‘kuakui’ ini cara yang sangat
baik.
Sudah lewat 3 menit dari waktu yang kutentukan.
Kuputuskan untuk pulang, aku bisa mencarinya lagi besok sekalian menunggu kabar
dari paman. “Aku mengerti. Sudah sore, aku akan pulang,” ucap ku sambil
berjalan melaluinya menuju pintu keluar. “Hey!” panggilnya membuatku menatapnya
lagi aku belum begitu jauh darinya. Kulihat dia melemparkan bukunya kearahku.
Sial, ini buku yang kucari. “Aku yang meminta pamanmu, untuk mengatakan kalau
itu buku yang harus kamu cari,” jelasnya. Ucapannya itu membuatku curiga kalau
sebenarnya dia sengaja masuk universitas dengan jurusan dan kelas yang sama
denganku, hanya untuk bertemu denganku. PD. “Sejak kapan kamu dekat dengan
paman?” tanyaku agak kesal, yang benar saja aku sudah mencarinya selama satu
jam. “Dia adalah teman pamanku bermain golf,” jawabnya sambil berjalan
melewatiku menuju pintu. Mungkin ini yang dinamakan Nepotisme.
“O iya, ada surat di dalam sampul belakang. Itu
buat kamu,” jawabnya sambil menunjuk
buku yang dia lemparkan tadi. Surat? Mungkinkah surat minta maaf? Aku membuka
sampul yang dimaksudnya. Ada amplop yang diselipkan disana. Cukup, ah bukan
Cukup tapi Sangat terkejut saat melihat ternyata pengirimnya bukan Liza
melainkan Floo Entertainment. Di sana dijelaskan kalau Noisy ingin melengkapi
membernya menjadi 5 orang. Dan orang yang mendapat tawaran adalah….. aku? Aku
melihat Liza tersenyum manis memandangku, senyum Liza yang begitu lama kulihat.
Mataku pun mulai berkaca-kaca, bukankah ini mimpiku? Kenapa bisa tiba-tiba ada
di tanganku?
“Kenapa…tiba-tiba aku bisa dapat tawaran?” tanyaku, kulihat Liza masih tersenyum. Senyum
yang aku tak percaya bisa melihatnya lagi. “Karena aku menginginkannya, karena
itu adalah ……permintaan keduaku,”ucapnya sungguh membuatku terharu. Ahh, aku
nggak tahan lagi. Air mataku benar-benar menetes, mengalir, menganak sungai di
pipi. Dia benar-benar keterlaluan, sudah membuatku begini mati gaya, membuatku
tidak bisa berkata-kata.
Ah tidak ada satu hal yang harus ku
katakan. “Liza, kamu benar tentang satu
hal,” ucapku setelah bisa mengendalikan air mataku. “Tentang apa?” tanyanya. “Sekali kalian memutuskan hubungan, kalian
mungkin nggak akan pernah saling bertemu lagi, adalah salah. Aku
benar-benar bertemu dengan Alliza,” ucapku, dia tersenyum lagi. “Tidak juga,
sebenarnya dialog itu masih benar,” jawabnya menolak arus yang kubuat, dahiku
mengerut. “Bukankah ada kata ‘mungkin’ dalam dialog itu?” ucapnya membuatku
kesal lagi. “Bukannya cukup dengan berkata ‘ya’ saja?” ucapku, setidaknya kan
impas kalau aku juga bisa membuatnya terharu. Dasar! Tapi aku senang bisa
berteman lagi dengan Alliza.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar